Thursday, 10 June 2021

SUDAHKAH KITA BERADAB TERHADAP ILMU

SUDAHKAH KITA BERADAB TERHADAP ILMU




OLEH : AHMAD ZUBAIDILLAH

 

Sudah menjadi adat dikalangan para penuntut ilmu, bahwa salah satu cara untuk mendapatkan keberkahan ilmu adalah menghormati dan beradab terhadap setiap apapun yang berhubungan dengan ilmu. Mulai dari menghormati guru, menghormati buku, dan juga menghormati ilmu itu sendiri. Sayangnya hal semacam ini mulai luntur di zaman yang sudah fleksibel ini, yang mana wawasan sudah bisa di akses lewat media dan informasi manapun.

 

Di kalangan pondok pesantren menghormati ilmu adalah salah satu faktor yang paling menentukan ilmu itu akan bermanfaat dan memberikan keberkahan kepada si penuntut ilmu atau tidak.


Disini penulis akan menyampaikan 2 faktor penting untuk mencapai Futuh-nya ilmu.

Pertama, adalah dengan cara menghormati ahli ilmu atau guru. Syeikh Zarnuji dalam karanganya Ta’lim wa Al-Muta’alim mengatakan :

 

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم و أهله، و تعظيم الأستاذ و توقيره

"Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan mendapat suatu ilmu dan tidak manfaat baginya ilmu tersebut, kecuali dengan menghormati ilmu dan ahli ilmu dan menghormati guru”

 

Juga sebaiknya seorang murid menghormati seorang guru dalam hal Dhohiriyah seperti tidak menyela seorang guru ketika sedang menjelaskan suatu ilmu, tidak berjalan di depan guru, tidak duduk di tempatnya, tidak mengganggu seorang guru dalam waktu sibuknya, juga menggunakan tutur bahasa yang sopan ketika hendak berbicara dengan seorang guru. Dalam hal Bathiniyah  mendoakan seorang guru  ketika selesai sholat adalah salah satu bentuk upaya menghormati guru. Dan menanamkan dalam hati bahwasannya kita hanyalah seorang manusia yang bodoh dan dilahirkan dalam keadaan tidak mengerti apa-apa.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

 

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

 

Bahwasannya manusia itu dilahirkan dalam keadaan tidak tahu-menahu tentang suatu hal apapun. Dengan begitu, kita akan sadar semakin kita tahu tentang suatu ilmu kita akan semakin merasa sebagai manusia yang bodoh, juga semakin menyadari bahwasannya kiprah seorang guru itu sangat besar terhadap ilmu dalam kehidupan kita.

 

Imam Ibn Mubarok RA dalam kitab Adabul Alim Wa Al-Muta’alim karangan Hadrotus Syeikh KH. Hasyim As’arie mengatakan :

نحن الى قليل من الادب احوج منّا الى كثير الى كثير من العلم

“Sedikit adab lebih kita butuhkan untuk mendapatkan banyaknya ilmu”

 

Bahkan dikisahkan bahwasannya Hadrotus Syeikh Hasyim As’arie salah satu pendiri Nahdhatul Ulama’ Jam’iyah islam terbesar di Indonesia ini semasa menunut ilmu di Syaikhona Kholil Bangkalan rela mengambil cincin istri gurunya di dalam tempat kotoran tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mendapatkan ridho dan menghormati gurunya.

Bahkan Sayyidina Ali Karomallohu Wajhahu berkata :

انا عبد من علّمني حرفا واحدا إن شآء باع وإن شآء اعتق وإن شآء استرقّ

"Aku adalah seorang (budak) bagi orang yang mengajarkanku walaupun satu huruf. jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakanku, ataubtetap menjadikan aku sebagai budaknya”.

 

Kedua, pentingnya menghormati sebuah buku atau kitab dalam menggapai keberkahan suatu ilmu. Hal semacam ini mungkin sudah mulai luntur di kalangan para penuntut ilmu zaman ini, karena mulai tergesernya sebuah kitab dengan media digital seperti HP, Laptop atau akses media yang bisa membawa ke suatu informasi. Sehingga banyak yang lupa bahwasannya salah satu faktor penting dalam mencapai barokahnya ilmu adalah beradab terhadap kitab itu sendiri.

 

Syeikh Zarnuji dalam Kitab Ta’lim Wa Al-Muta’alim mengatakan :

مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ تَعْظِيْمِ الْكِتاَبِ فَيَنْبَغِىْ لِطَّالَبِ الْعِلْمِ لاَ ياْخُذَا الكِتاَبِ اِلاَّ بِطَهَرَةِ

"Adapun salah satu cara menghormati ilmu adalah dengan cara menghormati kitab (buku). Maka sebaiknya seorang penuntut ilmu tidak mengambil kitab (buku) kecuali dengan bersuci”.

 

Mengapa demikian? karena buku adalah salah satu media tempat menuangkan suatu ilmu, dan di dalamnya terkandung sebuah ilmu yang kita pelajari. Dalam hal ini seorang guru tetap  mempunyai keterbatasan manusiawi dan tetap mempunyai fitrah sebagai manusia yang hidup dan mati. Fungsi kitab (buku) disini adalah menjaga agar kemurnian suatu ilmu terjamin dan bisa menjadi estafet kelanjutan ilmu ke generasi berikutnya.

 

Bahkan dalam hal peletakan dan penataan kitab Hadrotus Syeikh Hasyim As’arie dalam kitab Adabul Alim Wa Al-Muta’alim menjelaskan secara berurutan mulai dari kanan, mulai dari Al-Qur’an, Hadits, Tafsir Al-Quran, Tafsir Hadits, dan dilanjutkan kitab-kitab yang lain. Hal ini dimaksudkan agar kita tetap menjaga sumber ilmu itu sendiri. Karena dasar seluruh ilmu adalah Al-Qur’an kemudian dilanjutkan Hadits dan Cabang ilmu yang lain.

 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."

(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)

 

Wallohu A’lam.

 

*Penulis adalah Mahasiswa yang sedang melanjutkan study di Konya, Turki.

 

 photo by: 44388_620.jpg (620×355) (tempo.co)

 

 

 

 

Sunday, 30 May 2021

Refleksi 568 Tahun Konstantinopel Ditaklukkan

Refleksi 568 Tahun Konstantinopel Ditaklukkan

 Oleh: Muchammad Abdur Rochman*




29 Mei selalu diperingati sebagai hari ditaklukkannya Ibukota Pemerintahan Byzantium, Konstantinopel. Sang penakluk, Sultan Mehmet II atau yang lebih dikenal dengan Sultan Mehmet Al Fatih berhasil menaklukkan wilayah itu ketika berusia 21 tahun. Penaklakukan ini pastinya menjadi sebuah capaian keberhasilan yang sangat brilian. Terutama mengingat umur Sang Penakluk masih muda dan yang ditaklukkan merupakan ibukota negara Byzantium, negara yang pernah menguasi seluruh Eropa, Asia Barat dan Afrika Utara.

Di Indonesia, sosok Sultan Mehmet Al Fatih selalu dijadikan sosok panutan untuk generasi muda Islam. Tiap tanggal 29 Mei, dapat ditemukan puluhan seminar terkait semangat, kehebatan, dan mimpi sang Al Fatih. Tentunya hal ini perlu diapresiasi mengingat dampak positif yang memengaruhi generasi muda Islam. Hal ini membuat generasi muda Islam di Indonesia semakin percaya diri untuk menampilkan dan mengungkapkan identitasnya sebagai muslim.

Ditambah dengan adanya sosok presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang begitu masyhur sebagai pemimpin yang tegas dan islamis. Erdogan juga telah berhasil mengembalikan fungsi Hagia Shopia menjadi Masjid setelah sebelumnya berstatus museum. Foto Sang Presiden seringkali disandingkan dengan Mehmet Al Fatih. Sebab keduanya sama-sama mengubah fungsi Hagia Shopia menjadi masjid.

Terlepas dari apa yang menimpa Erdogan saat ini karena isu Israel-Palestina, sosok Erdogan benar-benar berhasil mencuri hati para pemuda dan pemudi muslim Indonesia. Dan yang menarik, Pecinta Erdogan memanfaatkan momentum ini dengan menggaungkan kembali hadits yang dulu digunakan untuk menaklukkan Konstantinopel. Hadisnya begini;

“Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139)

Hadis di atas merupakan hadis yang selalu diungkapkan ketika seminar 29 Mei. Bahwa Nabi Muhammad SAW telah mewartakan akan datang seorang pemimpin dan pasukan yang bisa menaklukkan Konstantinopel. Bahkan Nabi Muhammad SAW telah menjamin bahwa panglima dan pasukan yang berhasil itu adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan.

Tentunya memahami hadis itu tidak bisa sepotong saja, memahami hadis itu haruslah secara keseluruhan. Seminar yang selama ini dilakukan tiap tanggal 29 Mei lebih banyak membahas dan mendiskusikan tentang sang panglima. Padahal dalam hadis itu, bukan hanya sang panglima yang disebutkan, ada kalimat ‘pasukan’ juga. Lantas, bagaimana kondisi dan keadaan pasukan yang ikut menaklukkan Konstantinopel? Apakah mereka se-keren dan se-hebat Al Fatih? Apakah mereka pantas mendapat gelar itu?

Tentunya tulisan ini dibuat bukan untuk menjawab pertanyaan di atas. Sebab pembahasan seperti itu membutuhkan banyak referensi dan data yang kuat. Ditambah lagi, tulisan seperti itu tidak akan cukup dimuat di sini. Mungkin, penulis hanya akan memberikan 3 manfaat apabila di kemudian hari, khususnya di peringatan 29 Mei, generasi muslim muda baik di Indonesia ataupun di Turki akan membahas dengan cukup detail bagaimana sih “Sebaik-baiknya pasukan” seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW;

Pertama, referensi untuk membuat buku tatakelola pasukan versi umat muslim.

Diakui atau tidak, umat muslim masih belum memiliki buku panduan tatakelola pasukan yang disepekati dan disahkan oleh seluruh ulama muslim dunia. Padahal, pasukan muslim dari masa ke masa selalu saja berhasil meraih kemenangan di setiap pertempuran ketika berhadapan dengan musuh.

Lantas pertanyaannya, sistem dan tatakelola militar versi mana yang bisa dijadikan patokan untuk ditulis dan dibukukan? Paling tidak bisa menjadi buku dasar untuk militer di negara yang mayoritas muslim? Tentu jawabannya adalah pasukan yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Siapa yang berani menyangkal atas jaminan yang telah diberikan Nabi Muhammad SAW terhadap mereka? Bahwa mereka adalah “Sebaik-baiknya pasukan”? Tidak ada pastinya.

Kedua, kehidupan sosial para pasukan. Tentunya predikat “Sebaik-baiknya pasukan” akan mengalir terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Apalagi setelah para pasukan pensiun dari medan pertempuran, mereka akan kembali menjadi rakyat sipil. Dari sini kemudian bisa kita lihat sikap mereka yang turut andil dalam perubahan iklim kehidupan sosial masyarakat. Atau bahkan berhasil membuat kultur yang islamis di tengah-tengah rakyat. Sekali lagi, Fakta ini bisa dinarasikan menjadi karya yang dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya peran pasukan baik dalam sebuah peperangan ataupun kehidupan setelahnya.

Ketiga, sebagai ajang membuktikan kebenaran Hadis Nabi Muhammad SAW. Setelah diadakan banyak diskusi dan seminar, baik yang melibatkan para pengamat militer, para pengamat sosial dan semacamnya, bisa kita simpulkan bahwa mereka sesuai dengan jaminan Nabi Muhammad SAW “Sebaik-baiknya pasukan” atau tidak? Jika benar, tentunya akan menambah keimanan kita. Apabila tidak, mungkin ada yang salah dalam memahami hadis itu. Wallahu a’lam.



*Penulis adalah mahasiswa Teology Islam di Univ. Necmettin Erbakan, Konya, Turki.

Saturday, 27 March 2021

Peringatan Isra’ Mi’raj PCINU Turki: Semangat Membumikan Tasawuf di Era Milenial

Peringatan Isra’ Mi’raj PCINU Turki: Semangat Membumikan Tasawuf di Era Milenial

 


Turki - Dalam nuansa keterbatasan era pandemik Covid-19, alhamdulillah para Nahdliyin di Negeri Dua Benua Turki masih dapat mengadakan Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peringatan Isra Mi’raj kali ini diselenggarakan dalam format Webinar pada Kamis, 25 Maret 2021 pukul 13.30-16.45 TRT / 17.30-20.45 WIB. Acara dilaksanakan secara virtual melalui platform Zoom. Pada acara ini, bekerjasama dengan NUTV, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Turki (PCINU Turki) selaku panitia acara juga menyiarakan Webinar ini secara live melalui channel YouTube NUTV.

Peringatan Isra Mi’raj kali ini mengangkat tema “Membumikan Tasawuf di Era Milenial” dengan menghadirkan Syaikh Fadhil Jailani (Mursyid Thoriqoh Qodiriah), Syaikh ala Muhammad Banimah (Ahli Hadits Universitas Al-Azhar dan Dai Internasional) dan KH. DR. (Hc) Husain Muhammad (Pengasuh Ponpes At-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, Fahima institut dan Penulis Buku). Webinar ini dimoderatori oleh Ustadz Ahmad Fauzan, seorang Mahasiswa Magister di Universitas Istanbul Sabahattin Zaim. Adanya kesempatan untuk dapat belajar secara langsung kepada Guru-Guru Mulia ini merupakan keberkahan yang patut disyukuri mengingat sulitnya untuk dapat bertemu dengan Mereka secara langsung.



Pengangangkatan tema tasawwuf memang menjadi penting di Era Millenial ini disaat banyaknya arus informasi yang dapat mendistorsi makna Ilmu Tasawwuf.  Bahkan hal ini ditegaskan juga oleh Ketua Acara Muhammad Aga Yudha bahwa Ilmu Tasawwuf penting dipahami dalam posisi yang tepat. Menurutnya, jika Ilmu Tasawwuf dipahami, digurui, dan dijalankan secara salah akan merusak dan menjadi candu yang fatalistik.

Rais Syuriah PCINU Turki, Ahmad Munji, dalam sambutannya juga menjelaskan dengan cukup jelas alasan mengapa tema Tasawwuf menjadi penting untuk diangkat dalam acara ini. Menurutnya, secara khusus di masa pandemik ini, tasawuf pada dasarnya dapat menjadi jawaban dari segala problematika yang dihadapi umat manusia di berbagai sejarah. Lebih lanjut, Gus Munji, sapaan akrabnya, menukil dawuh Sayid Husein Nashir asal Iran, “Manusia, pada dasarnya sedang mengalami Nestapa Dunia Modern. Manusia memang diberikan serba kemudahan dengan adanya teknologi modern. Namun sayangnya, mereka jauh dari spiritualitas atau Tasawuf” tegasnya.

Selaku pemateri pertama dalam acara ini, Syaikh Fadhil Jailani yang merupakan keturunan dari Syaikh Abdul Qodir al Jailani menjelaskan pentingnya kedudukan orang yang berilmu. Beliau menjelaskan, “Siapakah yang mewarisi tugas para Nabi? Jawabannya adalah orang yang berilmu. Ulama adalah pewaris para Nabi (HR Imam Tirmidzi dan Abu Dawud). Oleh sebab itu Syaikh Fadil menegaskan bahwa agama ini sejatinya diwariskan kepada yang orang-orang yang berilmu. Dalam kesempatan ini Syaikh Fadhil juga ikut menjelaskan perihal Thariqoh Qadiriyah. Thoriqah Qadiriyah sendiri lebih mengedepankan ilmu agama dalam segala aspek. Menerut Beliau, inti dari Thoriqah Qadiriah al Aliyah adalah ilmu.

Selaku pemateri kedua, Syaikh Ala Muhammad Banimah jugaikut menguatkan apa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Fadhil. Syaikh Ala Banimah berkata, “Asas utama bagi orang-orang yang ingin belajar ilmu Tasawuf adalah memiliki ilmu agama, paham agama, dan wawasan agama yang luas juga.” Syaikh Ala Banimah juga menjelaskan pentingnya belajar ilmu Tasawuf khususnya di era dewasa ini dimana semakin banyaknya kelompok-kelompok garis keras bermunculan. Dalam penjelasan Beliau, sebelum menghukumi sesuatu (buruk atau baik, red) hendaklah kita memahami hal itu dulu dengan baik (tashawwur). Untuk mengetahui apakah ilmu tasawuf ini baik atau buruk, harusnya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu ilmu tasawuf. Beliau menegaskan bahwa ilmu yang mengajarkan agar kita memiliki akhlak yang baik, memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT, memiliki hubungan yang baik juga dengan sesama manusia, hanya diajarkan di Ilmu Tasawwuf.

Selaku pemateri terakhir, KH. DR. (Hc) Husain Muhammad sempat menjelaskan tasawwuf dengan analogi pohon dimana Iman (Tauhid) sebagai akar, Islam (Syariat) sebagai dahan serta Ihsan (Tasawwuf dan Akhlaq) sebagai buah. Oleh karenanya Beliau menegaskan bagaimana syariat pada dasarnya bukanlah tujuan, ia justru menjadi jalan agar kita sebagai makhluk dapat menjadi insan yang bermanfaat kepada alam semesta. Beliau juga dalam kesempatan ini menceritakan bahwa sufi sendiri terinspirasi dari 2 Nabi, yakni Nabi Musa AS dan Nabi Daud AS. Beliau menukil dari kitab (Perjanjian) lama, “para nabi pun bertanya, “Dimana kami bisa menemukanMu wahai Tuhanku?” maka Allah pun menjawab, “Temui aku di tengah-tengah mereka yang hatinya terluka”. Jadi, menurut Beliau di sinilah fungsi utama seorang sufi, yakni ketika seorang hamba dapat di setiap harinya berusaha untuk selalu mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Beliau melanjutkan, “sebagaimana yang ada di hadis Kudsi, Allah berfirman kepada hambanya “Wahai hambaku, sesungguhnya aku lapar. Kenapa kamu tidak memberiku makanan?”. Maka hambaNya pun menjawab, “Bagaimana Engkau lapar, padahal Engkaulah yang memiliki alam semesta ini?”. Maka Allah pun menjawab, “Iya betul, tapi hambaku si Fulan dan fulan lapar. Kenapa kamu tidak memberi makan mereka? Andaikan kamu memberi mereka makanan maka kamu akan menemukan DiriKu”. Dalam penjelasan ini dapat dipahami bagaimana luasnya pandangan seorang hamba jika dapat melihat sekelilingnya dengan pandangan yang didasari ilmu tasawwuf. Pada akhirnya, Kyai Husein menjelaskan bahwa Beliau memang condong untuk menerangkan tasawuf dari persepektif yang Beliau jelaskan dalam forum ini, bukan dari persepektif individualistik.

Sebagai penutup, kesempatan Isro Mi’roj ini menjadi momentum yang penting bagi setiap Muslim untuk dapat berefleksi atas eksistensinya sebagai hamba sekaligus khalifah Tuhannya di muka bumi. Melalui pembelajaran Ilmu Tasawwuf, semoga kita dapat memahami bagaimana menjalankan segala amanah atas penciptaan kita dengan sebaik-baiknya. Pun semoga kita dapat menjadi insan yang dapat menawarkan kemanfaatan sebagai buah dari adanya iman dan islam. Hingga nantinya di akhir kita dapat menjadi insan yang pulang dalam keadaan dan hati yang selamat.


Pewarta: R. Shaleh

Thursday, 21 May 2020

Sambut Idul Fitri di Tengah Pandemi, PCINU Turki dan Arab Saudi Jalin Silaturahim Menghidupkan Kesalehan Sosial

Sambut Idul Fitri di Tengah Pandemi, PCINU Turki dan Arab Saudi Jalin Silaturahim Menghidupkan Kesalehan Sosial




Istanbul/Riyadh (21/05) - Menjelang Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi, PCI-NU Turki dan Arab Saudi menginisiasi silaturahim melalui aplikasi Zoom untuk menghidupkan kesalehan sosial di masyarakat. Silaturahim yang dipandu Aufal Arrafy dan Faiz ini diisi dengan ceramah publik Katib Syuriah PBNU K.H. Sa'dullah Affandy mengenai lebaran, pandemi, dan ujian kesalehan sosial.

Kiai Sa'dullah menekankan bahwa Al-Qur'an mendorong umat manusia untuk bersifat saleh kepada seluruh makhluk-Nya.

"Di dalam Al-Qur'an, Allah sudah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk melaksanakan tindakan baik kepada siapa pun. Bahkan juga kepada alam secara luas," kata dia.

Lebih lanjut, Katib Syuriah yang juga Atase Ketenagakerjaan KBRI Riyadh ini juga menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengulang kata "saleh" dengan berbagai sigath (bentuknya) hingga ratusan, baik dengan redaksi kata "saleh", "muslih", "islah", dan sebagainya.

"Al-Qur'an bicara banyak tentang kesalehan. Kata-kata kesalehan dalam berbagi bentuknya terulang di dalam Al-Qur'an hingga 180 kali. Bahkan bila digabungkan dengan kata sinonimnya, seperti al-hasan, muhsin, dan sejenisnya terulang hingga 652 kali."

Hal itu menurutnya, memperlihatkan keseriusan Allah dalam mengajak seluruh umat manusia agar berbuat saleh.

Lebih lanjut lagi, kesalehan dalam Al-Qur'an selalu dihubungkan dengan kata iman sebanyak 60 kali. "Ini menunjukkan ke kita bahwa keimanan adalah fondasi dasar dalam beramal saleh," ujar Katib Syuriah PBNU itu.

Kesalehan Itu Arif

Al-Qur'an membangun tiga hubungan yang mesti dipahami, yaitu hubungan kepada Allah, diri sendiri, dan lingkungan.

"Amal saleh tidak cukup melaksanakan rukun iman dan Islam saja, tapi akan lebih sempurna bila didaraskan untuk memenuhi kepentingan lingkungan kita. Bila tidak, artinya agama belum memainkan perannya," tegas Kiai Sa'dullah.

Menurutnya, saleh adalah ketika seseorang bisa menciptakan rasa aman bagi manusia yang lain. Mengatasnamakan saleh tetapi ia merusak berarti ia tidak tepat bila dikatakan saleh. Perlakuan itu dalam Islam disebut mufsid atau merusak, kebalikan dari saleh.

Lanjutnya, saleh juga bisa berarti arif dalam mengelola pembangunan. "Tidak ada eksploitasi, menghindari penggusuran, tidak merusak, dan sejenisnya itu saleh" ujar dia.

Kesalehan Kolektif Adalah Fondasi Peradaban

Selain arif, kesalehan kolektif dalam masyarakat menurutnya adalah fondasi dasar peradaban. "Penting kiranya untuk memberikan definisi terhadap kesalehan. Kesalehan adalah arif dan memberikan manfaat seluas-luasnya. Kesalehan kolektif adalah fondasi peradaban. Itu yang disebut dan dilakukan para sufi terdahulu," kata dia.

Al-Qur'an dalam hal ini datang ke muka bumi tidak sebatas meluruskan akidah apalagi salat semata. Tapi fungsi lain adalah sebagai pelindung alam dari penyimpangan dan ajakan konsistensi terhadap kebaikan.

Kiai Sa'dullah menyebutkan, anjuran dan ganjaran berbuat saleh serta beriman bukan hanya diperuntukkan untuk umat Islam. Seperti yang ditemukan dalam tesisnya di PTIQ Jakarta, ada beberapa redaksi AL-Qur'an yang menunjukkan itu, antara lain surat Al-Imran: 114, Al-Baqarah: 62, Al-Maidah 69, dan Al-Hajj 17.

"Namun tujuan berbuat saleh adalah mengharapkan ridha Allah. Ciri-ciri amal saleh adalah pesan-pesan yang baik dan kesabaran," kata dia.

Silaturahim yang merupakan rangkaian penutup kajian Ramadhan PCI-NU Turki ini ditutup oleh Kiai Guslik An-Namiri (PCI-NU Arab Saudi) dan Ahmad Munji (PCI-NU Turki) serta doa dari Kiai Kholil Ghozali.

Savran Billahi (PCI NU Turki)

Saturday, 7 December 2019

PCI NU Turki Gelar Peringatan Maulid Nabi, Tekankan Kasih Sayang sebagai Ajaran Utama Rasulullah

PCI NU Turki Gelar Peringatan Maulid Nabi, Tekankan Kasih Sayang sebagai Ajaran Utama Rasulullah





Ankara (Sabtu, 30/11)- Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Turki mengadakan peringatan maulid nabi Muhammad di ruang serbaguna KJRI Istanbul. Maulidan diisi dengan hiburan khas nahdliyin shalawat simtudhurrar dan ceramah keagamaan yang diisi Muhammad Badri Habibie dan Syekh Mouta al-Mourad dari Darul Hadits Al-Awamiyyah Istanbul.

Pada peringatan maulid nabi kali ini, PCINU Turki menekankan pada penghidupan akhlak dan budi pekerti rasulullah pada kehidupan sehari-hari.

"Kita sering lupa di sela-sela kesibukan duniawi ini tentang perangai nabi Muhammad yang penuh dengan kebaikan. Banyak sekarang yang hanya memanfaatkan agama sebagai kepentingannya. Maulid ini adalah momentum yang tepat untuk mengingat kembali kebaikan-kebaikan rasulullah," kata Ketua Tanfidziah PCINU Turki Ahmad Munji dalam pembukaan.

Pada peringatan maulid yang dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat di Turki itu, penceramah Muhammad Badrie mengajak masyarakat untuk mengambil sunnah-sunnah rasulullah dengan bijak.

"Dalam sunnah itu ada beberapa tingkatan, dari yang paling tinggi sampai yang tingkatannya rendah. Menyebar kasih sayang, seperti senyum, menjaga anak yatim itu termasuk sunnah yang substansial. Ironinya sekarang banyak yang mengaku meniru sunnah nabi, tapi terlalu fokus pada hal-hal yang tidak substansial, seperti memelihara jenggot, tapi sambil menebar teror kepada muslim lain," ujar dia.

Ia melanjutkan, masyarakat harus dapat membedakan perbedaan ushuliah, furu'iah, dan budaya agar tidak larut dalam pertengkaran dan mendekatkan kesan Islam yang ramah.

"Kita sekarang serba terbalik-balik. Kita sering terjebak pada perdebatan tentang furu'iah, seakan-akan itu adalah ushuliah. Ushuliah adalah hal yang tidak bisa diubah-ubah, seperti shalat, prinsip bahwa nabi terakhir adalah nabi Muhammad. Sementara, perdebatan pilihan politik misalnya adalah furu'iah, jadi jangan gontok-gontokan di sana seakan persoalan ushul. Di samping itu dalam berislam kita harus juga kompatibel dengan budaya kita berpijak," kata dia menjelaskan.

Senada dengan dia, Syekh Mouta al-Mourad menekankan pada akhlak nabi yang menyebar kasih kasih kepada siapa pun.

"Akhlak nabi sebenarnya ada banyak, seperti kata hadits; akhlak nabi adalah Al-Qur'an. Tapi yang saya ingin tekankan adalah pada rahmah (kasih sayang). Nabi turun membawa Islam yang rahmatan lil alamin. Ia selalu bersikap baik pada seluruh orang, bahkan dengan musuh-musuhnya sekalipun," ujar dia.

Menurutnya, tidak ada batas bagi kita untuk berbuat baik. Kunci surga adalah kebaikan, keikhlasan, dan kasih sayang.

"Bahkan seorang wanita yang dikenal pelacur bisa masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang sedang haus. Jadi, kita harus terus menyebar kasih sayang seluas-luasnya," lanjut dia.




Acara maulid nabi setiap tahun selalu diselenggarakan PCI NU Turki dengan berbagai topik ceramah dan dihadiri oleh seluruh anggota dari seluruh wilayah di Turki, ormas Islam lain, serta masyarakat umum.

Savran Billahi
Mahasiswa S2 Jurusan Sejarah di Hacettepe University

Thursday, 8 August 2019

PBNU Suarakan Keutuhan Bangsa di Turki

PBNU Suarakan Keutuhan Bangsa di Turki




Ankara (Ahad, 28/07) -  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara bekerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki mengundang Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tasyakuran kemerdekaan RI ke-74 di Wisma Duta KBRI Ankara. Tasyakuran diisi dengan pembacaan shalawat nabi tim hadrah PCINU dan pengajian umum Rais Syuriah PBNU K.H. Manarul Hidayat.

Dubes RI Lalu Muhammad Iqbal serius mengundang kiai-kiai NU pada tasyakuran kemerdekaan RI. Keseriusan itu terlihat dari undangan yang hadir, antara lain K.H. Miftahul Akhyar (Rais Am PBNU), K.H. Manarul Hidayat (Rais Syuriah PBNU), dan K.H. Zulfa Mustofa (Katib Syuriah PBNU). Hadir Pula Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, K.H. Mahbub Maafi Ramdlan dan Ketua PP NU Care-LAZISNU, Achmad Sudrajat.

Pada tasyakuran bertema “Semangat Islam dan Kebangsaan” itu, Kiai Manarul mengajak seluruh masyarakat Indonesia di Turki untuk memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad dan bangsa Indonesia. “Tugas ulama adalah menjaga himayatul diniyah (keagamaan) dan wataniyah (kenegaraan),” kata dia.

“Maksudnya, menjaga nilai keislaman, baik dari sisi akidah maupun kenegaraan”, lanjut Rais Syuriah PBNU itu.

Tasyakuran dengan Masyarakat Berbagai Elemen



Tasyakuran tidak hanya dihadiri warga NU, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia di Turki, antara lain, Muhammadiyah, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor, Ikatan Keluarga Masyarakat Aceh (Ikamat), dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Turki.

PCINU Turki juga mengundang puluhan santri Indonesia di Sulaimaniye Ankara dan kelompok gelin (masyarakat Indonesia yang menikah atau menetap di Turki).

Mereka mengikuti tasyakuran dengan antusias. Terlihat dari gelak tawa mereka ketika Kyai Manarul meluncurkan humor-humor khas NU. Dalam sesi tanya jawab, mahasiswi Indonesia Universitas Istanbul Medeniyet, Dwi Retno menanyakan tentang keanggotaan NU dan konsep warga negara (al-muwatin) yang sempat ramai pasca diputuskannya hasil bahtsul masail MUNAS dan KONBES Nahdlatul Ulama 2019.

Menurut KH. Zulfa Mustofa, siapapun yang mempunyai pandangan keislaman yang tawassuth, tawazun, dan tasamuh maka dia termasuk nahdliyin.

“Al-muwatin yang menjadi putusan bahtsul masail merupakan ijtihad ulama-ulama NU untuk menjawab status kafir dalam konteks bernegara di Indonesia,” tambah KH. Mahbub Maafi Rahmdlan.

Menurutnya, dari segi hukum bernegara non-muslim di Indonesia tidak bisa diklasifikasikan pada salah satu jenis kafir dalam fiqih (kafir zimmi, kafir mu’ahad, kafir musta’man, dan kafir harbi). Tetapi secara akidah, non-muslim di Indonesia tetap disebut kafir.

“Jadi tidak ada niatan untuk mengubah kalimat kafir dalam Al-Quran itu” tandasnya.

Rombongan PBNU berada di Turki selama 5 hari. Sebelumnya, PBNU berkunjung dan menginisiasi kerja sama dengan beberapa instansi di Turki seperti Maarif Foundation, Diyanet Turki (lembaga keagamaan pemerintah), dan Mufti Konya.

Ketua PCINU Turki, Ahmad Munji menyatakan warga Nahdliyin siap membantu kerja sama tersebut dan berharap dapat terwujud secepatnya. Selain kunjungan-kunjungan itu, PBNU juga melakukan ziarah ke beberapa makam wali dan ulama di Turki, seperti Abu Ayup Al-Ansari (Istanbul), Osman Orhan (Bursa), dan Jalaludin Rumi (Konya).

Ridho/Savran

Tuesday, 30 July 2019

Reportase Kunjungan Rombongan PBNU ke Konya Turki

Reportase Kunjungan Rombongan PBNU ke Konya Turki

Rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam agendanya saat berkunjung ke Turki juga memiliki agenda untuk mengunjungi kota Konya. Di Konya ini, para peserta rombongan yang terdiri dari Rais Aam PBNU KH Miftahul Achyar yang didampingi Sekretaris Kedubes Indonesia untuk Turki Afrian Asri, juga didampingi Sekretaris Dewan Syuriah KH Zulfa Mustofa, serta para pengurus Majelis Syuriah NU lainnya seperti KH Manarul Hidayat, Achmaf Sudrajat Salim, dan Mahbub Maafi.

Tak lupa pula beberapa pengurus dan warga PCINU di Konya juga turut menyambut dan mendampingi kegiatan rombongan.

Mengunjungi Departemen Agama Wilayah Konya

Dalam kesempatan itu, rombongan yang datang langsung di sambut oleh Wakil Ketua Departemen Agama Wilayah Konya, Bapak Musa İMAMOĞLU serta beberapa staf. Setelah penyambutan di depan kantor, rombongan kemudian langsung diajak untuk menuju ruang kepala untuk selanjutnya melaksanakan agenda berdialog dan berdiskusi.
Rombongan Berdialog dengan pihak Departemen Agama Konya Turki

Bapak Musa pun kembali mengucapkan selamat datang dan memberikan keterangan secara singkat mengenai kegiatan Departemen Agama Wilayah Konya, berupa profil, agenda kegiatan, tugas-tugas, serta teknis-teknis kegiatan selama periode kepengurusan beliau. Juga dijelaskan mengenai rencana-rencana kegiatan keagamaan yang berupaya atau bertujuan untuk meningkatkan kualitas keberagamaan masyarakat Turki khsuusnya di wilayah Konya.

Selain itu, Bapak Musa pun mengenalkan kepada rombongan mengenai profil kota Konya, sejarah singkat, serta informasi terkait kependudukan, situasi sosial, ekonomi dan pendidikan.

Setelah itu, pihak rombongan PBNU pun memberikan ucapan terimakasih serta mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan rombongan dalam kunjungan tersebut. Dimulai dari Rais Aam, KH. Miftahul Achyar yang menjelaskan bahwa tujuan kedatangan rombongan adalah untuk bersilaturahim kepada sesama umat Islam serta hendak belajar dari Turki dan berbagi pengalaman mengenai kehidupan beragama dan berbangsa.
Rombongan dan Pihak Departemen Agama Turki Bertanya-jawab

Juga Rais Aam menjelaskan mengenai profil singkat organisasi Nahdlatul Ulama, sejarah, serta kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan. "Nahdlatul Ulama adalah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dan memiliki saham terbesar dalam rangka menjadikan terwujudnya bangsa Indonesia" begitulah salah satu kutipan penjelasan Rais Aam.

Dalam kesempatan itu, Rais Aam juga berpesan kepada pihak Departemen Agama Konya untuk sekiranya di masa yang akan datang, bisa membuka peluang lebar untuk bisa menerima pelajar-pelajar dari Indonesia agar bisa melanjutkan pendidikan di Konya khususnya.

Segala maksud dan tujuan kedatangan rombongan PBNU tersebut diterima dengan sangat baik oleh Bapak Wakil. Beliau mengatakan, "Sebagai umat Islam, agar hubungan kita semakin erat maka kita harus sering bersilaturahim." Untuk waktu yang akan mendatang, beliau juga mendorong warga Nahdiyin untuk selalu menjalin komunikasi yang erat dengan pihak Departemen Agama Konya. Juga dalam kegiatan-kegiatan keagamaan hendaknya warga PCINU Turki juga bisa ikut andil nantinya.

Makan Bersama dan Ramah Tamah

Setelah menyelesaikan pertemuan resmi, rombongan kemudian shalat dhuhur dan berlanjut menuju restoran Konya Mutfagi, restoran khas Konya yang menyediakan makanan daerah. Rombongan pun bisa mengobrol dengan suasana lebih mengalir dan lebih akrab.
Tuan Rumah dan Para Tamu Makin Akrab

Pihak Departemen Agama dan Rombongan PBNU mendapatkan jamuan istimewa berupa makanan Etliekmek, makanan legendaris khas Konya berupa roti bertabur irisan daging dan dimasak dengan metode klasik.
Para Tamu menikmati jamuan makan dengan lahab
Rombongan pun juga sempat bersua foto dengan masyarakat lokal dan ramah tamah serta berdialog singkat seputar budaya Indonesia.

Mengunjungi Kantor dan Museum Pusat Kultur dan Budaya di Konya

Agenda berikutnya adalah mengunjungi kantor dan museum Pusat Kultur dan Budaya di daerah Karatay Konya. Di dalam museum ini, ditampilkan beberapa lukisan yang menggambarkan situasi Konya zaman lampau. Juga ada beberapa lukisan yang menggambarkan tentang perjalanan hidup ar-Rumi.
Para rombongan mendengarkan Penjelasan dari Pihak Departemen Agama mengenai kehidupan ar-Rumi melalui Lukisan
Para rombongan mendengarkan dengan rasa penasaran atas apa yang dijelaskan oleh pihak Departemen Agama. Bisa dibilang museum itu adalah tempat yang paling tepat untuk menggambarkan kultur dan budaya Konya secara realistis.

Dari tempat tersebut para rombongan bisa belajar secara mendetail mengenai kehidupan masyarakat konya serta bagaimana sejarah hidup Maulana Ar-Rumi.

Berziarah ke Makam Maulana Jalaluddin Ar-Rumi

Akhirnya tibalah pada giliran tempat yang ditunggu-tunggu, yaitu makam Jalaluddin ar-Rumi. Rombongan datang dan masuk bersamaan dengan para peziarah yang telah memenuhi lokasi dalam dan luar makam. Akhirnya dengan agak berdesakan, para rombongan bisa masuk ke dalam makam dan berdoa tahlil disana.
Rombongan melantuntan Tahlil dan Doa
Bisa dibilang, sebanyak kunjungan penulis ke makam ar-Rumi, baru kali ini bisa berkesempatan melaksanakan doa tahlil secara panjang dan lebih lengkap. Biasanya kalau kelamaan dan dianggap mengganggu, oleh penjaga makam disuruh untuk melanjutkan berjalan agar bisa bergantian.
Rombongan Melihat Benda-benda Peninggalan di Museum
Dalam kunjungan ini, pihak guide dari Departemen Agama pun menjelaskan secara rinci tentang benda-benda peninggalan yang ada di dalam area makam. Rombongan bisa melihat beberapa peninggalan seperti al-Quran, baju, bahkan jenggot Nabi Muhammad Saw.

Mengunjungi Kule, Gedung Tertinggi di Konya Serta Menikmati Jamuan dan Ramah Tamah

Agenda berikutnya yang terlaksana adalah jamuan makan malam bersama rombongan dan pihak dari Departemen Agama Konya. Jamuan kali kedua ini dilaksanakan di gedung tertinggi di Konya, yaitu Kulesite. Bangunan ini terdiri dari 42 lantai, dimana jumlah ini adalah sama dengan kode plat kendaraan Konya, 42.

Rombongan bisa menikmati hidangan khas Turki dalam beragam pilihan, seperti kebab daging, kebab ayam, olahan makaroni, dan lain sebagainya. Yang istimewa dari tempat ini adalah pengunjung bisa melihat Kota Konya ke beragam penjuru.

Menikmati Tari Sema

Agenda terakhir adalah menyaksikan tari Sema, yaitu tari sufi yang memiliki ciri khas berputar yang merupakan peninggalan dari Syeikh Jalaluddin Ar-Rumi. Tarian yang penuh dengan makna kesufian ini membuat rombongan dan pengunjung khusyuk dengan dibarengi alunan lagu khas sufi yang merdu.

Dengan menyaksikan tari Sema ini, pengunjung bisa mempelajari makna-makna di balik simbol serta gerakan dalam tarian, dimana tarian itu menggambarkan kematian dan penyatuan jiwa dengan Dzat yang dicinta, yaitu Allah Swt.
Sebelum berpisah, rombongan pun kembali berkumpul bersama dengan pihak Departemen Agama Konya dengan saling mengucapkan terimakasih dan ucapan selamat jalan. Bapak Reyhan, selaku perwakilan Departemen Agama mengatakan, "Kami sangat senang atas kedatangan rombongan, kami akan menunggu kedatangan anda kembali agar bisa bertemu dan bersilaturahim kembali." Rais Aam mewakili para rombongan mengatakan, "Terimakasih atas segala jamuannya dan penerimaannya. Kami menunggu kedatangan Anda di Indonesia. Apapun kebutuhan Anda yang bisa kami lakukan akan kami usahakan."

Penulis: Didik Andriawan