Thursday, 21 May 2020

Sambut Idul Fitri di Tengah Pandemi, PCINU Turki dan Arab Saudi Jalin Silaturahim Menghidupkan Kesalehan Sosial

Sambut Idul Fitri di Tengah Pandemi, PCINU Turki dan Arab Saudi Jalin Silaturahim Menghidupkan Kesalehan Sosial




Istanbul/Riyadh (21/05) - Menjelang Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi, PCI-NU Turki dan Arab Saudi menginisiasi silaturahim melalui aplikasi Zoom untuk menghidupkan kesalehan sosial di masyarakat. Silaturahim yang dipandu Aufal Arrafy dan Faiz ini diisi dengan ceramah publik Katib Syuriah PBNU K.H. Sa'dullah Affandy mengenai lebaran, pandemi, dan ujian kesalehan sosial.

Kiai Sa'dullah menekankan bahwa Al-Qur'an mendorong umat manusia untuk bersifat saleh kepada seluruh makhluk-Nya.

"Di dalam Al-Qur'an, Allah sudah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk melaksanakan tindakan baik kepada siapa pun. Bahkan juga kepada alam secara luas," kata dia.

Lebih lanjut, Katib Syuriah yang juga Atase Ketenagakerjaan KBRI Riyadh ini juga menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengulang kata "saleh" dengan berbagai sigath (bentuknya) hingga ratusan, baik dengan redaksi kata "saleh", "muslih", "islah", dan sebagainya.

"Al-Qur'an bicara banyak tentang kesalehan. Kata-kata kesalehan dalam berbagi bentuknya terulang di dalam Al-Qur'an hingga 180 kali. Bahkan bila digabungkan dengan kata sinonimnya, seperti al-hasan, muhsin, dan sejenisnya terulang hingga 652 kali."

Hal itu menurutnya, memperlihatkan keseriusan Allah dalam mengajak seluruh umat manusia agar berbuat saleh.

Lebih lanjut lagi, kesalehan dalam Al-Qur'an selalu dihubungkan dengan kata iman sebanyak 60 kali. "Ini menunjukkan ke kita bahwa keimanan adalah fondasi dasar dalam beramal saleh," ujar Katib Syuriah PBNU itu.

Kesalehan Itu Arif

Al-Qur'an membangun tiga hubungan yang mesti dipahami, yaitu hubungan kepada Allah, diri sendiri, dan lingkungan.

"Amal saleh tidak cukup melaksanakan rukun iman dan Islam saja, tapi akan lebih sempurna bila didaraskan untuk memenuhi kepentingan lingkungan kita. Bila tidak, artinya agama belum memainkan perannya," tegas Kiai Sa'dullah.

Menurutnya, saleh adalah ketika seseorang bisa menciptakan rasa aman bagi manusia yang lain. Mengatasnamakan saleh tetapi ia merusak berarti ia tidak tepat bila dikatakan saleh. Perlakuan itu dalam Islam disebut mufsid atau merusak, kebalikan dari saleh.

Lanjutnya, saleh juga bisa berarti arif dalam mengelola pembangunan. "Tidak ada eksploitasi, menghindari penggusuran, tidak merusak, dan sejenisnya itu saleh" ujar dia.

Kesalehan Kolektif Adalah Fondasi Peradaban

Selain arif, kesalehan kolektif dalam masyarakat menurutnya adalah fondasi dasar peradaban. "Penting kiranya untuk memberikan definisi terhadap kesalehan. Kesalehan adalah arif dan memberikan manfaat seluas-luasnya. Kesalehan kolektif adalah fondasi peradaban. Itu yang disebut dan dilakukan para sufi terdahulu," kata dia.

Al-Qur'an dalam hal ini datang ke muka bumi tidak sebatas meluruskan akidah apalagi salat semata. Tapi fungsi lain adalah sebagai pelindung alam dari penyimpangan dan ajakan konsistensi terhadap kebaikan.

Kiai Sa'dullah menyebutkan, anjuran dan ganjaran berbuat saleh serta beriman bukan hanya diperuntukkan untuk umat Islam. Seperti yang ditemukan dalam tesisnya di PTIQ Jakarta, ada beberapa redaksi AL-Qur'an yang menunjukkan itu, antara lain surat Al-Imran: 114, Al-Baqarah: 62, Al-Maidah 69, dan Al-Hajj 17.

"Namun tujuan berbuat saleh adalah mengharapkan ridha Allah. Ciri-ciri amal saleh adalah pesan-pesan yang baik dan kesabaran," kata dia.

Silaturahim yang merupakan rangkaian penutup kajian Ramadhan PCI-NU Turki ini ditutup oleh Kiai Guslik An-Namiri (PCI-NU Arab Saudi) dan Ahmad Munji (PCI-NU Turki) serta doa dari Kiai Kholil Ghozali.

Savran Billahi (PCI NU Turki)

Saturday, 7 December 2019

PCI NU Turki Gelar Peringatan Maulid Nabi, Tekankan Kasih Sayang sebagai Ajaran Utama Rasulullah

PCI NU Turki Gelar Peringatan Maulid Nabi, Tekankan Kasih Sayang sebagai Ajaran Utama Rasulullah





Ankara (Sabtu, 30/11)- Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Turki mengadakan peringatan maulid nabi Muhammad di ruang serbaguna KJRI Istanbul. Maulidan diisi dengan hiburan khas nahdliyin shalawat simtudhurrar dan ceramah keagamaan yang diisi Muhammad Badri Habibie dan Syekh Mouta al-Mourad dari Darul Hadits Al-Awamiyyah Istanbul.

Pada peringatan maulid nabi kali ini, PCINU Turki menekankan pada penghidupan akhlak dan budi pekerti rasulullah pada kehidupan sehari-hari.

"Kita sering lupa di sela-sela kesibukan duniawi ini tentang perangai nabi Muhammad yang penuh dengan kebaikan. Banyak sekarang yang hanya memanfaatkan agama sebagai kepentingannya. Maulid ini adalah momentum yang tepat untuk mengingat kembali kebaikan-kebaikan rasulullah," kata Ketua Tanfidziah PCINU Turki Ahmad Munji dalam pembukaan.

Pada peringatan maulid yang dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat di Turki itu, penceramah Muhammad Badrie mengajak masyarakat untuk mengambil sunnah-sunnah rasulullah dengan bijak.

"Dalam sunnah itu ada beberapa tingkatan, dari yang paling tinggi sampai yang tingkatannya rendah. Menyebar kasih sayang, seperti senyum, menjaga anak yatim itu termasuk sunnah yang substansial. Ironinya sekarang banyak yang mengaku meniru sunnah nabi, tapi terlalu fokus pada hal-hal yang tidak substansial, seperti memelihara jenggot, tapi sambil menebar teror kepada muslim lain," ujar dia.

Ia melanjutkan, masyarakat harus dapat membedakan perbedaan ushuliah, furu'iah, dan budaya agar tidak larut dalam pertengkaran dan mendekatkan kesan Islam yang ramah.

"Kita sekarang serba terbalik-balik. Kita sering terjebak pada perdebatan tentang furu'iah, seakan-akan itu adalah ushuliah. Ushuliah adalah hal yang tidak bisa diubah-ubah, seperti shalat, prinsip bahwa nabi terakhir adalah nabi Muhammad. Sementara, perdebatan pilihan politik misalnya adalah furu'iah, jadi jangan gontok-gontokan di sana seakan persoalan ushul. Di samping itu dalam berislam kita harus juga kompatibel dengan budaya kita berpijak," kata dia menjelaskan.

Senada dengan dia, Syekh Mouta al-Mourad menekankan pada akhlak nabi yang menyebar kasih kasih kepada siapa pun.

"Akhlak nabi sebenarnya ada banyak, seperti kata hadits; akhlak nabi adalah Al-Qur'an. Tapi yang saya ingin tekankan adalah pada rahmah (kasih sayang). Nabi turun membawa Islam yang rahmatan lil alamin. Ia selalu bersikap baik pada seluruh orang, bahkan dengan musuh-musuhnya sekalipun," ujar dia.

Menurutnya, tidak ada batas bagi kita untuk berbuat baik. Kunci surga adalah kebaikan, keikhlasan, dan kasih sayang.

"Bahkan seorang wanita yang dikenal pelacur bisa masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang sedang haus. Jadi, kita harus terus menyebar kasih sayang seluas-luasnya," lanjut dia.




Acara maulid nabi setiap tahun selalu diselenggarakan PCI NU Turki dengan berbagai topik ceramah dan dihadiri oleh seluruh anggota dari seluruh wilayah di Turki, ormas Islam lain, serta masyarakat umum.

Savran Billahi
Mahasiswa S2 Jurusan Sejarah di Hacettepe University

Thursday, 8 August 2019

PBNU Suarakan Keutuhan Bangsa di Turki

PBNU Suarakan Keutuhan Bangsa di Turki




Ankara (Ahad, 28/07) -  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara bekerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki mengundang Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tasyakuran kemerdekaan RI ke-74 di Wisma Duta KBRI Ankara. Tasyakuran diisi dengan pembacaan shalawat nabi tim hadrah PCINU dan pengajian umum Rais Syuriah PBNU K.H. Manarul Hidayat.

Dubes RI Lalu Muhammad Iqbal serius mengundang kiai-kiai NU pada tasyakuran kemerdekaan RI. Keseriusan itu terlihat dari undangan yang hadir, antara lain K.H. Miftahul Akhyar (Rais Am PBNU), K.H. Manarul Hidayat (Rais Syuriah PBNU), dan K.H. Zulfa Mustofa (Katib Syuriah PBNU). Hadir Pula Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, K.H. Mahbub Maafi Ramdlan dan Ketua PP NU Care-LAZISNU, Achmad Sudrajat.

Pada tasyakuran bertema “Semangat Islam dan Kebangsaan” itu, Kiai Manarul mengajak seluruh masyarakat Indonesia di Turki untuk memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad dan bangsa Indonesia. “Tugas ulama adalah menjaga himayatul diniyah (keagamaan) dan wataniyah (kenegaraan),” kata dia.

“Maksudnya, menjaga nilai keislaman, baik dari sisi akidah maupun kenegaraan”, lanjut Rais Syuriah PBNU itu.

Tasyakuran dengan Masyarakat Berbagai Elemen



Tasyakuran tidak hanya dihadiri warga NU, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia di Turki, antara lain, Muhammadiyah, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor, Ikatan Keluarga Masyarakat Aceh (Ikamat), dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Turki.

PCINU Turki juga mengundang puluhan santri Indonesia di Sulaimaniye Ankara dan kelompok gelin (masyarakat Indonesia yang menikah atau menetap di Turki).

Mereka mengikuti tasyakuran dengan antusias. Terlihat dari gelak tawa mereka ketika Kyai Manarul meluncurkan humor-humor khas NU. Dalam sesi tanya jawab, mahasiswi Indonesia Universitas Istanbul Medeniyet, Dwi Retno menanyakan tentang keanggotaan NU dan konsep warga negara (al-muwatin) yang sempat ramai pasca diputuskannya hasil bahtsul masail MUNAS dan KONBES Nahdlatul Ulama 2019.

Menurut KH. Zulfa Mustofa, siapapun yang mempunyai pandangan keislaman yang tawassuth, tawazun, dan tasamuh maka dia termasuk nahdliyin.

“Al-muwatin yang menjadi putusan bahtsul masail merupakan ijtihad ulama-ulama NU untuk menjawab status kafir dalam konteks bernegara di Indonesia,” tambah KH. Mahbub Maafi Rahmdlan.

Menurutnya, dari segi hukum bernegara non-muslim di Indonesia tidak bisa diklasifikasikan pada salah satu jenis kafir dalam fiqih (kafir zimmi, kafir mu’ahad, kafir musta’man, dan kafir harbi). Tetapi secara akidah, non-muslim di Indonesia tetap disebut kafir.

“Jadi tidak ada niatan untuk mengubah kalimat kafir dalam Al-Quran itu” tandasnya.

Rombongan PBNU berada di Turki selama 5 hari. Sebelumnya, PBNU berkunjung dan menginisiasi kerja sama dengan beberapa instansi di Turki seperti Maarif Foundation, Diyanet Turki (lembaga keagamaan pemerintah), dan Mufti Konya.

Ketua PCINU Turki, Ahmad Munji menyatakan warga Nahdliyin siap membantu kerja sama tersebut dan berharap dapat terwujud secepatnya. Selain kunjungan-kunjungan itu, PBNU juga melakukan ziarah ke beberapa makam wali dan ulama di Turki, seperti Abu Ayup Al-Ansari (Istanbul), Osman Orhan (Bursa), dan Jalaludin Rumi (Konya).

Ridho/Savran

Tuesday, 30 July 2019

Reportase Kunjungan Rombongan PBNU ke Konya Turki

Reportase Kunjungan Rombongan PBNU ke Konya Turki

Rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam agendanya saat berkunjung ke Turki juga memiliki agenda untuk mengunjungi kota Konya. Di Konya ini, para peserta rombongan yang terdiri dari Rais Aam PBNU KH Miftahul Achyar yang didampingi Sekretaris Kedubes Indonesia untuk Turki Afrian Asri, juga didampingi Sekretaris Dewan Syuriah KH Zulfa Mustofa, serta para pengurus Majelis Syuriah NU lainnya seperti KH Manarul Hidayat, Achmaf Sudrajat Salim, dan Mahbub Maafi.

Tak lupa pula beberapa pengurus dan warga PCINU di Konya juga turut menyambut dan mendampingi kegiatan rombongan.

Mengunjungi Departemen Agama Wilayah Konya

Dalam kesempatan itu, rombongan yang datang langsung di sambut oleh Wakil Ketua Departemen Agama Wilayah Konya, Bapak Musa İMAMOĞLU serta beberapa staf. Setelah penyambutan di depan kantor, rombongan kemudian langsung diajak untuk menuju ruang kepala untuk selanjutnya melaksanakan agenda berdialog dan berdiskusi.
Rombongan Berdialog dengan pihak Departemen Agama Konya Turki
Bapak Musa pun kembali mengucapkan selamat datang dan memberikan keterangan secara singkat mengenai kegiatan Departemen Agama Wilayah Konya, berupa profil, agenda kegiatan, tugas-tugas, serta teknis-teknis kegiatan selama periode kepengurusan beliau. Juga dijelaskan mengenai rencana-rencana kegiatan keagamaan yang berupaya atau bertujuan untuk meningkatkan kualitas keberagamaan masyarakat Turki khsuusnya di wilayah Konya.

Selain itu, Bapak Musa pun mengenalkan kepada rombongan mengenai profil kota Konya, sejarah singkat, serta informasi terkait kependudukan, situasi sosial, ekonomi dan pendidikan.

Setelah itu, pihak rombongan PBNU pun memberikan ucapan terimakasih serta mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan rombongan dalam kunjungan tersebut. Dimulai dari Rais Aam, KH. Miftahul Achyar yang menjelaskan bahwa tujuan kedatangan rombongan adalah untuk bersilaturahim kepada sesama umat Islam serta hendak belajar dari Turki dan berbagi pengalaman mengenai kehidupan beragama dan berbangsa.
Rombongan dan Pihak Departemen Agama Turki Bertanya-jawab
Juga Rais Aam menjelaskan mengenai profil singkat organisasi Nahdlatul Ulama, sejarah, serta kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan. "Nahdlatul Ulama adalah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dan memiliki saham terbesar dalam rangka menjadikan terwujudnya bangsa Indonesia" begitulah salah satu kutipan penjelasan Rais Aam.

Dalam kesempatan itu, Rais Aam juga berpesan kepada pihak Departemen Agama Konya untuk sekiranya di masa yang akan datang, bisa membuka peluang lebar untuk bisa menerima pelajar-pelajar dari Indonesia agar bisa melanjutkan pendidikan di Konya khususnya.

Segala maksud dan tujuan kedatangan rombongan PBNU tersebut diterima dengan sangat baik oleh Bapak Wakil. Beliau mengatakan, "Sebagai umat Islam, agar hubungan kita semakin erat maka kita harus sering bersilaturahim." Untuk waktu yang akan mendatang, beliau juga mendorong warga Nahdiyin untuk selalu menjalin komunikasi yang erat dengan pihak Departemen Agama Konya. Juga dalam kegiatan-kegiatan keagamaan hendaknya warga PCINU Turki juga bisa ikut andil nantinya.

Makan Bersama dan Ramah Tamah

Setelah menyelesaikan pertemuan resmi, rombongan kemudian shalat dhuhur dan berlanjut menuju restoran Konya Mutfagi, restoran khas Konya yang menyediakan makanan daerah. Rombongan pun bisa mengobrol dengan suasana lebih mengalir dan lebih akrab.
Tuan Rumah dan Para Tamu Makin Akrab
Pihak Departemen Agama dan Rombongan PBNU mendapatkan jamuan istimewa berupa makanan Etliekmek, makanan legendaris khas Konya berupa roti bertabur irisan daging dan dimasak dengan metode klasik.
Para Tamu menikmati jamuan makan dengan lahab
Rombongan pun juga sempat bersua foto dengan masyarakat lokal dan ramah tamah serta berdialog singkat seputar budaya Indonesia.

Mengunjungi Kantor dan Museum Pusat Kultur dan Budaya di Konya

Agenda berikutnya adalah mengunjungi kantor dan museum Pusat Kultur dan Budaya di daerah Karatay Konya. Di dalam museum ini, ditampilkan beberapa lukisan yang menggambarkan situasi Konya zaman lampau. Juga ada beberapa lukisan yang menggambarkan tentang perjalanan hidup ar-Rumi.
Para rombongan mendengarkan Penjelasan dari Pihak Departemen Agama mengenai kehidupan ar-Rumi melalui Lukisan
Para rombongan mendengarkan dengan rasa penasaran atas apa yang dijelaskan oleh pihak Departemen Agama. Bisa dibilang museum itu adalah tempat yang paling tepat untuk menggambarkan kultur dan budaya Konya secara realistis.

Dari tempat tersebut para rombongan bisa belajar secara mendetail mengenai kehidupan masyarakat konya serta bagaimana sejarah hidup Maulana Ar-Rumi.

Berziarah ke Makam Maulana Jalaluddin Ar-Rumi

Akhirnya tibalah pada giliran tempat yang ditunggu-tunggu, yaitu makam Jalaluddin ar-Rumi. Rombongan datang dan masuk bersamaan dengan para peziarah yang telah memenuhi lokasi dalam dan luar makam. Akhirnya dengan agak berdesakan, para rombongan bisa masuk ke dalam makam dan berdoa tahlil disana.
Rombongan melantuntan Tahlil dan Doa
Bisa dibilang, sebanyak kunjungan penulis ke makam ar-Rumi, baru kali ini bisa berkesempatan melaksanakan doa tahlil secara panjang dan lebih lengkap. Biasanya kalau kelamaan dan dianggap mengganggu, oleh penjaga makam disuruh untuk melanjutkan berjalan agar bisa bergantian.
Rombongan Melihat Benda-benda Peninggalan di Museum
Dalam kunjungan ini, pihak guide dari Departemen Agama pun menjelaskan secara rinci tentang benda-benda peninggalan yang ada di dalam area makam. Rombongan bisa melihat beberapa peninggalan seperti al-Quran, baju, bahkan jenggot Nabi Muhammad Saw.

Mengunjungi Kule, Gedung Tertinggi di Konya Serta Menikmati Jamuan dan Ramah Tamah

Agenda berikutnya yang terlaksana adalah jamuan makan malam bersama rombongan dan pihak dari Departemen Agama Konya. Jamuan kali kedua ini dilaksanakan di gedung tertinggi di Konya, yaitu Kulesite. Bangunan ini terdiri dari 42 lantai, dimana jumlah ini adalah sama dengan kode plat kendaraan Konya, 42.

Rombongan bisa menikmati hidangan khas Turki dalam beragam pilihan, seperti kebab daging, kebab ayam, olahan makaroni, dan lain sebagainya. Yang istimewa dari tempat ini adalah pengunjung bisa melihat Kota Konya ke beragam penjuru.

Menikmati Tari Sema

Agenda terakhir adalah menyaksikan tari Sema, yaitu tari sufi yang memiliki ciri khas berputar yang merupakan peninggalan dari Syeikh Jalaluddin Ar-Rumi. Tarian yang penuh dengan makna kesufian ini membuat rombongan dan pengunjung khusyuk dengan dibarengi alunan lagu khas sufi yang merdu.

Dengan menyaksikan tari Sema ini, pengunjung bisa mempelajari makna-makna di balik simbol serta gerakan dalam tarian, dimana tarian itu menggambarkan kematian dan penyatuan jiwa dengan Dzat yang dicinta, yaitu Allah Swt.
Sebelum berpisah, rombongan pun kembali berkumpul bersama dengan pihak Departemen Agama Konya dengan saling mengucapkan terimakasih dan ucapan selamat jalan. Bapak Reyhan, selaku perwakilan Departemen Agama mengatakan, "Kami sangat senang atas kedatangan rombongan, kami akan menunggu kedatangan anda kembali agar bisa bertemu dan bersilaturahim kembali." Rais Aam mewakili para rombongan mengatakan, "Terimakasih atas segala jamuannya dan penerimaannya. Kami menunggu kedatangan Anda di Indonesia. Apapun kebutuhan Anda yang bisa kami lakukan akan kami usahakan."

Penulis: Didik Andriawan

Saturday, 2 March 2019

Pendidikan Dapur ala Para Sufi

Pendidikan Dapur ala Para Sufi






Selain ritual ibadah uzlah (pengasingan diri), para sufi memiliki tradisi kuliner khusus sebagai upaya riyadhah al-nafs (penempaan diri). Di lingkungan penganut tasawuf Maulana Jalaludin Rumi, Maulawiyah, dapur dijadikan sebagai tempat perguruan para sufi.

Di dapur, mereka yang ingin menjadi sufi dididik agar matang secara mental dan spiritual. Can (dibaca: Jan) atau dalam literatur lain juga disebut Nevniyaz, yaitu calon sufi, harus memasak makanan hingga matang. Tetapi sebelum itu, selama tiga hari pertama, mereka harus duduk di depan pimpinan para sufi (Pir) di sudut dapur, tanpa keluar sama sekali. Mereka dididik untuk mengamati dan mempelajari segala yang ada.

Pada akhir hari ketiga, pemimpin para sufi akan memutuskan kandidat sufi apakah ia bisa melakukannya (memasak) atau tidak. Jika bisa dan mendapatkan persetujuan dari pimpinan para sufi, Nevniyaz harus memulai masa percobaan selama 1001 hari untuk ia habiskan waktunya di dapur.

Bagi yang dianggap bisa melalui percobaan 1001 hari itu, mereka akan disebut sebagai Somad. Setelah itu, mereka diuji dengan melakukan 18 tugas berbeda. Mulai dari membersihkan toilet hingga pekerjaan di dapur, serta belajar sema (ritual tari sufi) atau Ney (meniup seruling) dari para senior seperguruan. Pada periode itu, kandidat akan dikeluarkan dari perguruan jika berperilaku tidak sopan atau melakukan kejahatan.

Dalam hal ini, dapur berperan penting sebagai wadah sosialisasi para sufi guna membentuk kepribadian yang kuat. Setelah masa-masa itu selesai, ia akan diterima di perguruan dan akan menjadi seorang sufi.

Itulah latar belakang munculnya ungkapan para sufi, “Aku mentah, aku dimasak dan aku terbakar” atau dalam bahasa Turki “hamdım, piştim, yandım”.



Menjadi Table Manner Masyarakat Turki

Sekitar abad 13, Konya merupakan kerajaan penting di Anatolia. Kerajaan itu dikenal memiliki tradisi kuliner dengan cita rasa tinggi.

Tradisi kuliner yang dikembangkan di lingkungan para sufi perguruan Maulawiyah menjadi warna tersendiri bagi budaya kuliner Seljuk, dan menyebar menjadi landasan table manner masyarakat Turki.

Adab menyantap makanan menjadi landasan para sufi. Para sufi biasanya makan dua kali dalam sehari, yaitu siang dan malam. Setelah makanan siap dihidangkan, Nevniyaz yang bertugas sebagai pemasak membuka tutup hidangan sambil berdoa, lalu makanan dibagikan di atas nipan. Petugas pengisi air pun dengan sigap mengisikan air di gelas-gelas yang akan dipakai para sufi. Setelah hidangan siap, salah seorang Nevniyaz bertugas memanggil para sufi. Para sufi memasuki dapur dengan mendahulukan kaki kanan sambil mengucap salam. Pimpinan para sufi dipersilakan masuk dan duduk, lalu para sufi lain mengikutinya.

Sebelum makan, sirup mawar disajikan. Selanjutnya, para sufi mengambil garam dengan jari telunjuk lalu mulai makan. Dalam menyantap hidangan, pertama-tama, mereka meminum sup hangat, kemudian menyantap makanan inti. Saat makan mereka tidak boleh berbicara, mengunyah dengan suara, mengamati kawan sekitar yang tengah makan, dan makan terlebih dahulu sebelum yang lain.

Petugas pengisi air sigap menunggui para sufi yang tengah menyantap dengan memegang gelas di tangan kanan dan teko air di tangan kiri. Para sufi memberikan isyarat dengan menggunakan roti untuk meminta air tersebut. Setelah selesai minum, mereka meletakkan tangan ke dada, dan saling memberi salam antara mereka. Terakhir, nasi sebagai makanan inti dihidangkan. Setelah selesai menyantap, pimpinan sufi memimpin doa dan diamini oleh para sufi. Setelah selesai menyantap, mereka kembali meletakkan jari telunjuk ke dalam garam, lalu meninggalkan meja.

Semua sopan santun itu kini menjadi bagian dari budaya santapan dan hidangan di Turki, meskipun budaya perguruan Maulawiyah jauh lebih halus dan sopan. Ritual santapan itu merefleksikan hak-hak dan hukum, juga tentang kasih sayang dan rasa hormat antar sesama.

Makanan sebagai Keindahan
Menurut Dr. Halıcı, budaya makanan Maulawiyah adalah cerminan pada filsafat mereka yang selalu mengedepankan keindahan untuk mencapai Allah.

Sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi pun dalam masterpiece Matsnawi banyak menyebutkan makanan sebagai wahana berekspresi. Dari sana kita juga bisa mengetahui serba-serbi makanan pada masa Rumi ketika hidup, yakni abad ke-13.

Untuk sayuran, pada Matsnawi Rumi menyebut daun bawang, terong, zucchini, seledri, bayam, bawang, bawang putih. Untuk buah-buahan, apel, quince, delima, pir, persik, ara, melon, semangka. Sementara untuk kacang dan keju, lentil, buncis, buncis, buncis, kacang kenari, almond, hazelnut, yogurt, susu mentega.

Makanan dan minuman seperti adonan filum, roti desa, roti daging (etli ekmek), pai, donat, madu, sirup gula, halva dan sirup juga banyak disebutkan dalam Matsnawi.

Pada periode Maulawiyah, sesuai dengan nilai sufisme, makanan dihidangkan dengan gaya sesederhana mungkin. Memasuki era Turki modern, makanan yang berasal dari tradisi Maulawiyyah dihiasi lebih banyak dekorasi dan kehalusan racikan.

Sebagai contoh etliekmek. Warisan kuliner tradisi Maulawiyah ini kini sudah menjadi ikon makanan Konya. Makanan berdasar roti yang disebut "pide" di kota-kota lain, telah mendapatkan ketenaran kontemporer karena diproduksi lebih rumit di Konya.



Etliekmek pertama dibuat di rumah Raziye Hatun Hanı dan menjadi makanan yang diutamakan di perguruan Maulawiyah. Sedangkan di era modern 1900an hingga sekarang, dijadikan menu sandingan oleh para pedagang kebab maupun dijadikan menu utama di restoran-restoran yang secara spesifik menjual etliekmek.

Ini adalah contoh yang tepat untuk menunjukkan penggunaan semua keindahan dalam mencapai Allah melalui dapur dan meja makan. Wallahu'alam.

Penulis: Dwi Retno Widiyanti
Editor: Savran Billahi

Wednesday, 2 January 2019

Pencinta Al-Qur'an Menista Agama?

Pencinta Al-Qur'an Menista Agama?





oleh Savran Billahi*

Rasulullah adalah sosok yang lemah lembut terhadap siapa pun, termasuk kepada para kafir Quraisy. Namun dalam catatan hadis, Rasulullah diketahui beberapa kali naik pitam, di antaranya ditujukan kepada para sahabat yang sangat bersemangat dalam beragama. Sebagai hadis, teguran langsung untuk sahabat itu menjadi peringatan dan pelajaran kepada umatnya sampai hari akhir.

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Abu Mas'ud, "Seseorang lelaki berkata: 'Wahai Rasulullah, saya ingin datang agak telat saat shalat jamaah Subuh, karena imam si fulan memanjangkan bacaannya.' Rasulullah pun Marah. Aku (Abu Mas'ud) tidak pernah melihat beliau marah melebihi marahnya saat itu. Kemudian beliau bersabda: 'Wahai manusia sekalian, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan orang lain dari agama Allah. Barangsiapa menjadi imam shalat maka hendaklah memperpendek bacaannya, karena dalam deretan makmum ada orang lemah, lanjut usia, dan memiliki keperluan.'"

Imam Bukhari juga meriwayatkan hadis Jabir bin Abdullah al-Anshari, ia berkata:

"Ada seseorang datang dengan membawa dua ekor unta Nadhih (pengangkut air untuk menyiram tanaman dan kebun) ketika hari menjelang malam. Ia mendengar Mu'adz sedang shalat. Ia pun meninggalkan untanya dan ikut shalat berjamaah bersama Mu'adz. Kemudian Mu'adz membaca surah al-Baqarah dan an-Nisa, hingga ia pun meninggalkan Mu'adz (untuk shalat sendiri). Lantas ia mendengar berita bahwa Mu'adz mengecam tindakannya. Akhirnya orang tersebut menemui Rasulullah, dan mengadukan perbuatan Mu'adz itu. Rasulullah bersabda: 'Wahai Mu'adz, apakah kamu menjadi pembuat fitnah?' Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. 'Kamu bisa membaca surah al-A'la, al-Syams, dan al-Lail, karena para makmum di belakangmu ada orang yang berusia lanjut, lemah, dan memiliki keperluan.'"

Pada saat itu, umat Islam mengalami kebingungan karena tindakan sahabat yang begitu bersemangat, memanjangkan bacaan shalat hingga memberatkan makmum. Banyak di antara makmum memilih keluar dari shalat berjamaah untuk shalat sendiri. Lebih-lebih, ketika sahabat yang bersemangat itu mengatakan orang yang memilih shalat sendirian adalah orang munafik.

Orang-orang kemudian mengadu kepada Rasulullah. Lantas siapakah yang terkena marah? Rasulullah mengatakan, para sahabat yang memanjangkan bacaan shalat sebagai munaffir, orang yang menjauhkan orang lain dari agama Allah.

Cinta Buta terhadap Al-Qur'an


Selain itu terdapat hadis yang mengherankan dengan makna serupa. Hudzaifah meriwayatkan, Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah seseorang yang membaca Al-Qur'an, sehingga terlihat kebesaran Al-Qur'an pada dirinya. Dia senantiasa membela Islam, kemudian ia mengubahnya, lantas ia terlepas darinya. Ia mencampakkan Al-Qur'an dan pergi menemui tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya syirik. Saya (Hudzaifah) bertanya: 'Wahai Rasulullah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak atas kesyirikan, yang dituduh ataukah yang menuduh?' Beliau menjawab: 'Yang menuduh.' (H.R. Bazzar).

Al-Haitsami dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan Abu Ya'la dalam Musnad-nya menganggap kualitas hadis ini hasan. Sementara Ibnu Katsir mengomentari sanad hadis ini jayyid. Usamah Sayyid al-Azhari dari Universitas Al-Azhar Mesir menganggap hadis ini penting untuk mendeskripsikan kondisi yang mengherankan dari orang-orang yang memiliki semangat keberagamaan yang kuat.

Menurutnya, orang-orang yang terlalu bersemangat beragama mengalami tahapan yang membingungkan. Dimulai dari mencintai Al-Qur'an, membaca bahkan menghafalnya, tenggelam di dalamnya, lalu bersinar cahaya kitab suci itu padanya. Namun, kemudian ia mengafirkan umat Islam, mengangkat senjata, dan menumpahkan darah. Pada akhirnya, seperti yang disebut hadis, "ia mengubah ayat Al-Qur'an".

Usamah Sayyid al-Azhari menerangkan, perubahan itu bukan berarti mengganti redaksi ayat, tetapi mengubah makna sebenarnya yang disampaikan Al-Qur'an. Sadar ataupun tidak. Orang seperti, lanjut Usamah Sayyid, terbuai dengan obsesi menjadi seorang pengambil hukum (istimbath) dari Al-Qur'an. Namun, ia tidak memiliki korpus pengetahuan teori ilmiah yang jelas, di samping tertutupi oleh semangat keberagamaannya, dan sikap reaktif.

Ia cenderung menafsirkan Al-Qur'an dengan fantasi dan istimbath sendiri, kemudian menutupi kelemahan metodologisnya dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an.

Orang-orang yang melihatnya kemudian bingung dengan jati dirinya, apakah ia telah menyimpang, atau usahanya itu sebagai sikap berkhidmah pada Al-Qur'an. Sebagian orang ikut menyebarkan metode berpikirnya karena menganggap ia adalah orang yang dekat dengan Al-Qur'an. Sebagian orang mengambil sikap membencinya, bahkan berprasangka terhadap Al-Qur'an dan Islam secara umum.

Contoh Kekinian

Pada masa kontemporer, tidak sedikit muslim yang menggambarkan hadis itu. Salah satu yang paling disorot dunia kini adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Turki bin Mubarak al-Ban'ali pada al-Lafdz al-Sani fi Tarjamah al-Adnani, mengupas Abu Muhammad al-Adnani Taha Subhi Falaha, orang kedua ISIS sangat terinspirasi oleh Fi Dzilal al-Qur'an karya Sayyid Qutb, seorang ulama yang sudah hafal Al-Qur'an sejak kecil. Bahkan ia membaca kitab itu berulang kali selama 20 tahun, dan ingin menulisnya kembali dengan tangannya sendiri.

Sebelum itu, Saleh Sariyah pada Risalah al-Iman juga menganggap masyarakat saat ini adalah jahiliah, dan menghadirkan konsep Dar Harb (wilayah perang). Ada pula Syukri Musthafa dan kelompok al-Takfir wa al-Hijrah, atau Muhammad Abdus Salam Farj dengan organisasi jihadnya dan karya al-Faridhah al-Ghaiyyah. Serta banyak pula ulama atau organisasi serupa di berbagai belahan dunia yang seperti digambarkan Rasulullah.

Pada akhirnya, tulisan ini juga bukan untuk menyalahkan apalagi mengatakan lebih jauh, mengafirkan seseorang atau kelompok. Tetapi sudah menjadi jelas bahwa rasa cinta terhadap agama perlu diiringi oleh ilmu yang tepat dan rasa sensifitas terhadap manusia, seperti yang Rasulullah lakukan kepada sahabat akibat perilakunya.

Agar kecintaan kita terhadap Al-Qur'an dan hadis sebagai sumber utama berislam tidak berbalik menjadi pintu awal menistakan Islam itu sendiri. Wallahua'lam bi as-shawab.


*Penulis adalah mahasiswa S2 Ilmu Sejarah Hacettepe Üniversitesi 

Sunday, 16 December 2018

Kucing dalam Tradisi Tasawuf

Kucing dalam Tradisi Tasawuf


Seorang Imam di Masjid Aziz Mahmud Hüdayi


Oleh : Ahmad Munji (Mahasiswa S3 Marmara Univ)

Salah satu hewan yang memiliki hubungan dekat dengan manusia adalah kucing. Keberadaannya sering membantu kehidupan manusia, seperti menjaga dapur atau gudang makanan dari ancaman tikus. Beberapa dari kita juga memeliharanya karena menganggapnya sebagai hewan manja dan menggemaskan.

Dalam narasi Islam, ada beberapa cerita unik mengenai kucing. Tentang bentuknya yang mirip singa misalnya. Pada saat Nabi Nuh melakukan misi penyelamatan dari azab banjir bersama umatnya yang taat, tidak ketinggalan di dalam kapal yang mereka naiki juga terdapat tikus. Namun rupanya tikus-tikus itu dengan cepat berkembang biak dan mengancam stok makanan di kapal. Khawatir kehabisan bahan makanan karena dimakan tikus, Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikeluarkan dari masalah baru yang sedang menimpanya dan umatnya.

Sebagai jawaban atas doa Nabi Nuh, Allah memerintahkan singa-singa untuk bersin. Maka keluarlah dari hidung-hidung mereka kucing-kucing lucu. Riwayat lain mengatakan, Nabi Nuh mendapat wahyu untuk memegang kepala dan memasukan jari-jarinya ke dalam hidung singa, sehingga singa itu bersin dan keluar dari hidungnya dua kucing kembar.

Selain cerita itu, dalam tradisi Islam juga terdapat sahabat nabi yang mendapat julukan “bapak kucing” karena diceritakan dirinya sangat menyayangi kucing. Sebaliknya, terdapat sebuah hadis yang menceritakan seorang perempuan menjadi calon penghuni neraka karena mengikat seokor kucing, tidak memberinya makan, dan juga tidak melepasnya untuk mencari makan.

Cerita tentang hubungan antara kucing dengan manusia juga bayak ditemukan dalam kisah para sufi, misal cerita Ahmad ar-Rifai. Pada suatu hari, ada seekor kucing yang tidur di atas jubah ar-Rifai, dan sampai waktu shalat tiba, kucing tersebut masih tertidur. Melihat jubahnya digunakan sebagai alas tidur kucing, ar-Rifai tidak tega membangunkan. Dia lebih memilih memotong bagian jubah yang ditempati si kucing. Baru setelah ar-Rifai selesai melaksanakan salat, si kucing sudah bangun dan pergi meninggalkan potongan jubah sang syekh.

Cerita yang sedikit mirip dinisbatkan kepada Syekh Baqi Billah. Pada suatu malam, Baqi Billah ingin melaksanakan shalat tahajud. Namun, di atas selimut yang dia gunakan ada seekor kucing tidur yang membuatnya tidak bisa bangun. Khawatir si kucing bangun, Baqi Billah rela tidak bangun sampai waktu subuh datang.

Cerita yang lebih mengagumkan tentang kucing terdapat dalam kisah Abu Bakar as-Sibli, seorang sufi dari kota Baghdat meninggal pada 334 H. Setelah kematiannya, di alam baqa salah satu dari sahabatnya bertemu dengan as-Sibli, lalu dia bertanya, “Bagaimana Allah memperlakukan kamu wahai Sibli?”

Sibli menjawab seraya bercerita, “Saya diperlakukan dengan istimewa oleh Allah. Allah bertanya kepada saya, 'Sibli, tahukah kamu mengapa Aku memperlakukanmu dengan sedemikian baik?'”

Sibli menjawab, “Karena saya mengerjakan perbuatan-perbuatan baik”. Kemudian Allah menjawab, “Bukan”.

Sibli menjawab lagi, “Karena saya beribadah dengan ihklas dan tulus”. Allah masih menjawab, “Bukan”.

Sibli menjawab lagi, “Jarena saya haji, puasa, dan shalat”. Allah masıh menjawab, “Bukan”.

Sibli bingung apa yang membuatnya diperlakukan dengan sebaik ini. Lalu Allah menjelaskan, “Kamu ingat? Kamu pernah pergi ke sebuah jalan di salah satu pojok kota Baghdad. Di sana kamu menemukan seekor anak kucing kedinginan, dan dengan penuh kasih sayang kamu merawatnya".

Lalu Sibli menjawab, “Iya wahai Allah, saya ingat itu”. 

"Karena kamu telah memperlakukan kucing itu dengan penuh kasih sayang, maka Aku memperlakukan kamu dengan perlakukan yang sama.”

Tentu memberikan perlakuan baik kepada kucing adalah simbol yang tidak boleh berhenti pada kucing. Apa yang telah dilakukan oleh para sufi kepada kucing juga mesti diterapkan kepada hewan dan makhluk yang lain. Adalah terang bahwa Allah memerintahkan kita umat manusia untuk memperlakukan hewan dengan baik, apalagi dengan sesama manusia.