Saturday, 23 February 2013

Menuju Tafsir Mantiqi; Sebuah Corak Kajian Tafsir Kontemporer

oleh : M. Labib Syauqi
A. Iftitah
Jika kita tengok sejarah perkembangan tafsir yang amat panjang, seiring dengan usia perkembangan peradaban Islam, maka terdapat benyak sekali berbagai kitab tafsir dengan berbagai metodologi dan keberagaman corak penafsiran yang dimiliki.
Dalam metode penafsiran al-Qur’an kita mengenal Metode Tahlili (Metode Analitik) yang disebut sebagai metodologi penafsiran tertua yang digunakan para ulama terdahulu dalam menafsirkan al-Qur’an. Kemudian setelah itu muncul metode-metode baru
yang ditujukan untuk melengkapi kekurangan metode terdahulu, ataupun memang sengaja dijadikan sebuah metode tersendiri yang mempunyai motivasi dan target yang lain. Sebut saja Metode Ijmali, kemudian Muqaran, baru datang kemudian Metode Maudhu’iy (tematik) yang muncul terakhir.

Disamping metode penafsiran tersebut diatas, terdapat juga berbagai corak penafsiran atas refleksi keadaan waktu itu, diantaranya muncul tafsir bercorak Lughawi (bahasa), FiqhiIlmiIsyari (tasawuf), Adabi Ijtima’i(sosial kemasyarakatan), sampai pada corak Falsafi. Semua corak tersebut muncul seiring dengan perkembangan peradaban sejarah Islam, yang mengalami masa keemasannya pada masa dinasti Abbasiyah. Dimana saat itu banyak disiplin ilmu yang diterjemahkan kedalam literatur arab, sehingga merangsang para intelektual muslim untuk mengaplikasikan ilmunya guna menafsirkan al-Qur’an menurut keahliannya, maka bermunculan berbagai corak penafsiran diatas. Dan terus berkembang sampai saat ini, sehingga kita kenal corak penafsiran kontemporer, seperti hermeneutika dan juga semiotika.
Dan makalah ini kami sebut “Menuju Tafsir Mantiqi” karena terinspirasi oleh tafsirnya Muhammad al-Ghazali yang berjudul “ Nahwa Tafsir al-maudhu’iy” (Menuju Tafsir Maudhu’i). begitulah beliau menyebut tafsirnya yang mencoba menafsirkan al-Qur’an dengan metode Maudhu’i, maka kami yang mencoba menafsirkan sedikit ayat dari al-Qur’an dengan corak ilmu Mantiq menamakannya dengan “Menuju Tafsir mantiqi”

B. Analisis Ayat Dengan Ilmu Mantiq
Dalam kesempatan kali ini yang akan kami analisis dengan ilmu mantiq adalah surat Ali Imran ayat 133 sampai 136, yang bunyinya :
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين -133- الذين ينفقون فى السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس، والله يحب المحسنين -134- و الذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون -135- أولئك جراؤهم مغفرة من ربهم وجنت تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها، ونعم أجر العالمين -136-
Yang artinya :
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
136. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beriman.
Dalam pembahasan Tafsir Mantiqi ini ada beberapa hal penting yang akan kami bahas :

1.      Proses Tasawwur Dalam Ayat
Pokok pembahasan pertama yang akan kita bahas adalah proses tasawwur yang dapat kita ambil dari ayat diatas. Dalam ayat ke 133, disitu Allah memerintahkan kita untuk bersegera menuju ampunan dari Allah. Ketika kita bergegas pada ampunan-NYA dan betaqwa pada-NYA, maka kita akan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi seisinya.
Dalam ayat itu kita diajak untuk bertasawwur dengan konsep surga. Maka untuk memahami dan menangkap sebuah konsep diperlukan dilalah. Dilalah adalah media untuk memahami sesuatu yang lain. Dilalah sendiri dibagi dua, yaitu Lafdziyah dan Ghairu Lafdziyah. Dalam konteks permasalahan ini dilalahnya Lafdziyah, yang fungsinya untuk menunjukkan konsep surga, isinya adalah bahwa surga adalah sesuatu yang luas, dan luasnya seluas langit dan bumi seisinya, dalam ayat selanjutnya dikisahkan juga bahwa surga adalah bagaikan kebun yang indah yang didalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir indah.
Dalam proses berpikir ada tiga komponen yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan :
· Yaitu ada Tashawwur/konsep/gambaran yang dalam hal ini tashawwur tersebut dibantu dengan adanya dilalah.
· Lafadz/kata/term, yang dalam hal ini adalah kata “surga
· Obyek yang dipikirkan atau wujud dari sesuatu itu, yang dalam hal ini materi/wujud surga termasuk yang abstrak, tidak ada wujudnya dan belum terbukti kebenarannya.
1.      Pembagian Qodhiah Dalam Ayat
Pembahasan kedua adalah mengenai Proposisi/Qadhiyah adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang mempunyai kemungkinan benar dan salah. Dalam ilmu mantiq proposisi disebut dengan Qadhiyah yaitu rangkaian kata-kata yang mengandung pengertian jumlah mufidah dalam ilmu Nahwu.
Pembahasan Qadhiyah bisa sangat luas dengan berbagai pembagiannya, dan dari berbagai sudut pandangnya, jika setiap pembagian/kategorisasi/apriori pasti bersamaan dengan itu juga ada pengelompokan/klasifikasi/aposteriori. Maka dalam permasalahan pembagian Qadhiyah ini, juga terdapat pengelompokan.
Dan setidaknya ada lima sudut pandang sebagai pembaginya yang akan muncul berbagai pengelompokan sebagi berikut :
a.       Dari Susunannya
Dari susunannya qadhiyah terdiri dari tiga : Subyek, kopula, dan predikat. Dari ayat diatas dapat kita ambil contoh lafal والله يحب المحسنين dimana الله menjadi subyek, dan يحب menjadi predikat. Sedangkan lafal المحسنين sebagai obyek yang tidak disyaratkan ada dalam mantiq. Namun harus ada dalam ilmu nahwu, karna terdapat kalimat Fi’il yang Muta’addi (membutuhkan obyek) يحب yang harus mempunyai Maf’ul atau obyek. Sedangkan kopulanya (kata penghubung) tidak harus selalu ada, jika sudah merasa cukup dan memberi kefahaman, maka tidak diperlukan kopula.

a.       Dari Obyek Pembahasannya
Jika dilihat dari luas tidaknya obyek pembahasannya, maka dibagi menjadi tiga, yaitu Universal, Partikular, dan Singular.
Dalam contoh الله يحب المحسنين terkandung makna universal atau umum, yaitu Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik secara keseluruhan.
a.       Dari Sifatnya
Qadhiyah jika ditinjau dari sifatnya maka terbagi menjadi dua, yaitu Hamliyah (kategoris) dan Syartiyah (Hipotesis)
Qadhiyah Hamliyah adalah qadhiyah yang mengandung pernyataan tanpa ada syarat, qadhiyah Syartiyah adalah qadhiyah yang mengandung adanya persyaratan didalamnya.
Dari ayat diatas, dapat kami contohkan الله يحب المحسنين termasuk qadhiyah Hamliyah,
dan contoh Syartiyah : إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم karena disitu terdapat syarat... إذا فعلوا dan juga terdapat jawabnya
فاستغفروا لذنوبهم .
a.       Dari Materinya
Jika dilihat dari segi materinya, maka dibagi menjadi dua, yaitu Analitik/Inheren dan Sintetik/Menempel.
Analitik adalah Qadhiyah yang materinya terkandung permanen dan inheren, sedangkan Sintetik adalah Qadhiyah yang materinya baru datang, berubah-ubah tidak tetap dan sifatnya menempel tidak permanen.
Contoh Analitik adalah الناس yang artinya “manusia”. Seorang manusia akan tetap sifatnya sebagai seorang manusia. Dan contoh Sintetik adalah المحسنين yang artinya “orang-orang yang berbuat baik”, dimana seseorang mungkin akan berbuat tidak baik, maka sifat baik yang melekat ini sifatnya Sintetis, baru dan berubah-ubah.

a.       Dari Bentuknya
Dari segi bentuk Qadhiyahnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu Afirmasi/Mujabah dan Negasi/Salibah.
Afirmasi adalah Qadhiyah yang menetapkan predikatnya terhadap subyek, sedangkan Negasi adalah Qadhiyah yang tidak menetapkan predikat pada subyeknya.
Contoh yang bisa digunakan sebagai contoh Afirmasi adalah هم يعلمون yang artinya “mereka mengetahui”, maka predikat yaitu “mengetahui” hukumnya ditetapkan pada “mereka”. Dan contoh Negasi dapat kita kembangkan dari contoh itu dengan menambahi لا yang artinya “tidak”, sehingga menjadi هم لا يعلمون yang artinya “mereka tidak mengerti”.

1.      Proses Istidlal (pengambilan dalil ) Dari Ayat
Pokok pembahasan ketiga adalah mengenai Istidlal (pengambilan dalil), kegiatan Istidlal atau penetapan indikator adalah sangat penting untuk sampai pada pengambilan kesimpulan yang benar.
Istidlal adalah berpindahnya pikiran dari sesuatu yang diketahui terhadap sesuatu yang belum diketahui. Seperti halnya ketika kita mengetahui bahwa arak itu memabukkan, dan kita juga tau bahwa sesuatu yang memabukkan itu hukumnya haram. Maka berbekal dengan sesuatu yang kita ketahui itu, kita bisa mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui, yaitu “arak itu hukumnya haram”.
Dan Istidlal secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu Qiyasi (menggunakan metode penyimpulan) dan Istiqra’iy (menggunakan metode penyimpulan yang bersifat induktif).

a.       Istidlal Qiyasi
Dan jika kita coba menggunakan Qiyas maka, yang bisa kita ambil dari kandungan keempat ayat diatas dari ayat 133-136, maka dapat kita ambil dua poin,yaitu :
1. Pada ayat 133 Allah menyerukan agar kita segera menuju ampunannya dan menjelaskan bahwa Allah berjanji akan memberikan surga bagi orang-orang yang bertaqwa.
2. Kemudian pada ayat 134-136 Allah menerangkan bahwa orang-orang yang menafkahkan hartanya, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, serta orang-orang yang bila berbuat keji  segera ingat Allah dan memohon ampunan terhadap dosanya, maka akan mendapatkan surga.
Dan sebelum kita masuk pada penerapan contoh ayat diatas dengan menggunakan Qiyas, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui unsur-unsur Qiyas :
Lafal-lafal dalam qadhiyah-qadhiyah qiyas, meliputi:
v Had Asghar (lafal yang menjadi maudhu’ pada natijah).
v Had Akbar (lafal yang menjadi mahmul pada natijah).
v Had Ausath (lafal yang diulang dua kali, pada qadhiyah qiyas pertama dan kedua).
Qadhiyah-qadhiyah dalam rangkaian qiyas, meliputi:
v Muqaddimah Sughro (Premis Minor) adalah qodhiyah yang didalamnya terdapat had ashghar.
v Muqoddimah Kubra (Premis Mayor) adalah qohiyah yang didalamnya terdapat had akbar.
v Natijah (Konklusi) adalah qodhiyah yang tersusun dengan cara merangkai had ashghor dan had akbar.
Jadi dari dua poin kandungan ayat yang dapat kita ambil diatas, maka bisa kita masukkan dalam metode Qiyas, sebagai berikut :
Muqaddimah Sughra :
· Orang yang dijanjikan Allah akan mendapatkan surga adalah orang-orang yang bertaqwa
Muqaddimah Kubra :
· Setiap Orang-orang yang menafkahkan hartanya
· Orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan kesalahan orang lain
· Orang-orang yang bila berbuat keji  segera ingat Allah
dan memohon ampunan terhadap dosanya
Dijanjikan Allah akan mendapatkan surga
Natijah :
· Maka orang-orang yang menafkahkan hartanya
· Orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan kesalahan orang lain
· Orang-orang yang bila berbuat keji  segera ingat Allah
dan memohon ampunan terhadap dosanya
adalah termasuk orang yang bertaqwa.
Dan Qiyas ini adalah termasuk pada bentuk Qiyas keempat, yaitu Had Ausathnya menjadi Maudlu’ pada Muqaddimah Sughra dan Had Ausathnya mejadi Mahmul pada Muqaddimah Kubro.

a.       Istidlal Istiqra’iy
Istiqra’iy adalah proses Pengambilan kesimpulan atau hukum dari bagian-bagian yang khusus untuk menarik kesimpulan atau hukum yang berlaku secara menyeluruh.

C. Refleksi
Setelah kita melakukan kegiatan analisis penafsiran dengan menggunakan kajian Ilmu mantiq, maka kita dapat mengetahui sisi lain al-Qur’an jika ditinjau dari perspektif Mantiq, sehingga hal tersebut bisa menambah wawasan kita terhadap al-Qur’an, dan membuktikan kebenaran bahwa memang al-Qur’an adalah lautan ilmu pengetahuan yang sangatlah luas dan indah untuk disediki dan diketahui hakekatnya.
Dan dari apa yang sedikit penulis lakukan diatas, adalah satu usaha kecil yang berusaha ikut untuk mengais air di hamparan samudra al-Qur’an yang teramat luas. Akhirnya demikianlah yang dapat penulis sajikan, semoga sedikit usaha ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan lebih-lebih dapat memberikan manfaat pada orang lain. Terimakasih.
والله أعــــلم بالصـــــواب



SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: