Saturday, 11 October 2014

Diskusi Kebangsaan : Pancasila

PANCASILA. 5 kalimat “sakral” yang menjadi sebuah landasan bagaimana sebuah bangsa kepulauan di sebelah tenggara Asia bernama Indonesia harus bergiat dan menjalankan kehidupan bernegara. Dari awal perumusan, lahir, kemudian dalam penerapannya, pancasila telah mengalami berbagai dinamika. Waktu telah menguji kelayakan Pancasila sebagai sebuah ideologi. Hingga pada puncaknya peristiwa yang tidak akan pernah terlupa dalam benak masyarakat Indonesia, G30SPKI, menandai lahirnya hari Kesaktian Pancasila.
Sekian tahun berlalu, pancasila masih kokoh berdiri di hati masyarakat Indonesia. Kini dalam peringatannya yang kesekian kali, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama di Turki (PCINU Turki) bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Aceh di Turki (IKAMAT) dan kelompok diskusi RUHUM menggelar diskusi kebangsaan memperingati hari kesaktian Pancasila pada tanggal 5 Oktober 2014 di gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul. Diskusi kali ini dibidani oleh 3 “sesepuh” Istanbul; Muhammad Arhami (IKAMAT), Muhammad Syauqillah (PCINU Turki), dan Rusydi Jarwo Abbas (RUHUM).

PANCASILA di mata Aceh
“Masyarakat Aceh memandang Pancasila biasa-biasa saja,” demikian kalimat pembuka yang dikemukakan oleh Muhammad Arhami, mahasiswa S3 Jurusan Teknik Komputer  Yıldız Teknik University  Istanbul. Menurut mahasiswa yang akrab disapa Bang Arhami ini, banyak noda-noda sejarah antara pemerintah dengan Aceh yang walaupun bisa dimaafkan tapi tidak bisa dilupakan.
Pada masa Tengku Muhammad Daud Beureuh, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno pernah menjanjikan otonomi daerah kepada Aceh untuk menerapkan syariat Islam. Namun bukannya ditepati, Aceh malah dilebur menjadi satu propinsi di bawah Provinsi Sumatera Utara. Dan setelah itu pun banyak sikap pemerintah yang seolah memarginalkan rakyat Aceh. “Tidak semua bisa saya ungkapkan di sini karena khawatir akan membuka luka lama," ungkap beliau.
Pancasila juga tidak dijalankan dengan konsekuen oleh pemerintah. Katakanlah sila ke 2 yang berbicara tentang kemanusiaan. Dalam garis sejarah bangsa Indonesia berbagai tindakan tak manusiawi dari pemerintah terpaksa ditelan masyarakat Aceh. Seperti ketika diterapkannya Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Ataupun ketika penumpasan DI/TII. Banyak warga sipil yang tidak berdosa ikut menjadi korban.
Kemudian kita lihat sila ke 5 yang menuntut keadilan untuk semua. Aceh tak kurang-kurang memberikan dukungannya untuk kemerdekaan maupun kejayaan Indonesia. Kemerdekaan yang kita rasakan sekarang tidak terlepas dari andil besar rakyat Aceh. Namun sayang, ketika merdeka justru sumber daya alam Aceh yang begitu melimpah ruah tidak bersisa untuk rakyatnya sendiri; tersedot semua.
Perjanjian Helsinki yang diharpkan memberi secercah cahaya kepercayaan untuk rakyat Aceh juga belum sepenuhnya dipenuhi pemerintah. Dari contoh ini, dan kasus-kasus lain, lunturlah penghargaan rakyat Aceh terhadap Pancasila. 5 sila dengan butir-butir penjelasnya ini tak lebih dari kalimat yang hanya dirapal di sekolah atau sebagai bahan dalam lomba cerdas cermat Pancasila saja. Masyarakat  Aceh yang agamis hanya mengenal satu nilai; syariat islam. Hanya keadilan dan penepatan janji yang sebenarnya dibutuhkan agar Pancasila di mata Aceh kembali pada derajatnya.

Islam dan Pancasila
Sesi kedua dibawakan oleh Muhammad Syauqillah, mahasiswa S3 Political Science dari Marmara University. Lewat sudut pandang sejarah , Mas Syauqi, mencoba membedah kesaktian Pancasila dari keterkaitannya dengan Islam.
Belakangan di Indonesia marak oleh sekelompok orang yang menggugat Pancasila. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim seharusnya menggunakan Syariat Islam. Bukan ideologi lain.
Nusantara memiliki sebuah bangsa jauh sebelum Negara/state terbentuk. Faktor kolonialisme mendorong bangsa ini untuk mengukuhkan diri sebagai sebuah Negara pada tahun 1945. BPUPKI dan panitia sembilan memeras common Ideology yang mampu menjadi payung bersama dari Sabang sampai Merauke. Kemudian tercetuslah 5 sila yang merupakan wakil dari berbagai ideologi.
Piagam Jakarta yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan dan merupakan cikal bakal dari Pancasila memuat kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Piagam Jakarta kemudian dijadikan muqaddimah dalam penyusunan UUD 1945. Namun dalam pengesahannya, poin tersebut diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa atas usul A.A. Maramis yang merupakan perwakilan dari Indonesia Timur.
Penghilangan 7 kata tersebut tentunya tidak terlepas dari persetujuan empat orang anggota Panitia Sembilan yang merupakan perwakilan kelompok Islam (termasuk di dalamnya KH, Wachid Hasyim). Hal ini seharusnya dimaknai sebagai pengorbanan umat islam terhadap kemajemukan rakyat Indonesia. Pesan yang ingin disampaikan founding Father kita bahwa persatuan bersama lebih penting daripada kepentingan golongan.
Setelah reformasi tahun 1998, 7 kata tersebut berusaha dimunculkan lagi oleh kelompok “islamis” dan partai-partai islam. Namun tidak banyak suara yang diraup mereka. Hal tersebut adalah indikasi bahwa sebenarnya pancasila masih relevan sampai sekarang, meskipun masih ada nilai yang belum tercermin dalam kehidupan bernegara. Perbedaan ini tak pantas lagi dibicarakan selain sebagai sejarah.

Hanya Alat
“Ideologi, baik itu Pancasila, liberal, atau apapun, adalah buah pemikiran manusia yang bisa berubah.” Ungkap Rusdi Jarwo Abbas yang juga mahasiswa S3 political science di Marmara University memulai sesi ketiga. “Ideologi merupakan cara atau alat, sedangkan tujuannya adalah kesejahteraan,” sambung dia.
Kakak Abbas, begitu sebagian pelajar Istanbul memanggilnya, berpendapat bahwa keberlangsungan Pancasila hingga kini dikarenakan karena masyarakat masih meyakininya. Relevansi kekinian pancasila dinilai bahwa belum ada alat lain yang sepadan dengan Pancasila untuk membawa masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang makmur. Dan karena Pancasila bisa berubah, maka tak perlu disakralkan. “Al-Quran yang diturunkan Tuhan saja masih dikritisi, apalagi Pancasila,” celetuk beliau.
Masalah yang timbul terkait ideologi bersumber dari perbedaan pemaknaan. Para akademisi memaknai pancasila dari kacamata normatif; jika keluar dari itu maka artinya melenceng. Sedangkan pemerintah melihatnya sebagai cara untuk berkuasa. Perbedaan tafsir seperti itu sudah terjadi secara alami.
Ketidakpahaman terhadap Pancasila juga merupakan sumber konflik. Beberapa yang bersuara untuk mengganti ideologi sebenarnya belum paham, bahwa apa yang mereka idekan sudah tercakup dalam Pancasila. Untuk itu, penting memaknai ideologi sebagai cara berpikir dan patokan kita. Mengingat manusia tidak bisa terbebas dari nilai; mereka diperebutkan oleh nilai-nilai disekelilingnya, baik disadari atau tidak.
Pancasila harus bisa berperan sebagai pagar. Fenomena yang terjadi sekarang adalah orang Indonesia pergi ke Amerika, Timur Tengah, atau Eropa untuk belajar. Sekembalinya ke Indonesia, masing-masing membawa ideologi dari negara yang pernah ditinggali. Anehnya Ideologi tersebut tumbuh subur di tanah air.
Indonesia layak berbangga dengan Pancasilanya. Bangsa Arab berasal dari satu rumpun, namun pecah menjadi Emirat Arab, Arab Saudi dan lainnya. Turki hanya terdiri dari Bangsa Turki dan Kurdi, namun konfliknya belum juga reda. Sedangkan Indonesia terdiri dari berbagai agama, puluhan etnis, dan ratusan suku. Namun bisa hidup dalam satu.
“Ibaratnya mereka itu dari satu pecah jadi banyak. Sedangkan kita dari banyak berkumpul menjadi satu. Lah mengapa kok kita bangga membawa ideologi dari luar? Sebaliknya, harusnya kita yang memperkenalkan Pancasila kepada mereka. Bilang pada orang Turki, “Abi, sini! Belajar Pancasila dulu sama saya,” pungkas Abbas yang diikuti gelak tawa peserta. (Abi adalah sebutan kakak dalam bahasa Turki).
*****
Diskusi kali ini cukup hangat meski udara Istanbul mendingin. Tercermin dari pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan, peserta yang mayoritas mahasiswa di Istanbul mengikutinya dengan antusias. Acara ditutup dengan sholat Maghrib berjamaah dan foto bersama. [Ridho Assiddicky]


SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: