Thursday, 19 February 2015

Masyarakat Turki antusias pada pengenalan budaya Islam Indonesia pada Harlah NU ke-89


DARI Konya menuju Kayseri, sekitar 4 jam dengan bis, kota yang sama-sama terletak di Anatolia Tengah. Sepanjang perjalanan bisa disaksikan kemegahan situs sejarah Cappadocia. Balon-balon mengambang menikmati rumah-rumah yang dipahat pada batu perkasa sebagai rumah hunian bangsa Hittit sekitar tahun 1600 SM. Di Kayseri inilah acara kumpul-kumpul bersama pengurus cabang istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Turki memperingati hari lahir ke-89 NU dalam pengajian akbar dan rampak budaya Indonesia-Turki, pada 2-4 Februari 2015 lalu.

Harlah di Kayseri terasa sempurna karena di kota inilah lahir ulama besar, salah satunya Sayyyid Burhaneddin Tirmizi, guru Maulana Jalaluddin Rumi, ulama dan penyair sufi berpengaruh. Dan acara memperkenalkan kebudayaan Islam Indonesia terlaksana lancar dengan tampilnya pertunjukan tari Saman, rebana, dan tari Indang.

Diprakarsai PCINU Turki bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Kayseri, didukung KBRI Ankara, Kuder dan Pemerintah Kota Kayseri ini tak lupa mengeksplorasi aspek-aspek kultural agama Islam di Indonesia. Semua peraga dan identitas tradisional keagamaan, khususnya yang dipraktikkan warga nahdliyin sendiri, ditampilkan maksimal. Seperti seperangkat pakaian salat, mukena, baju koko, sarung, songkok/peci dan pakaian tradisional Riau dan Betawi yang dipakai ketika kondangan nikahan dan perayaan hari-hari besar Islam lainnya.

“Sebagai negara berpenduduk Islam, antara Turki dan Indonesia, kegiatan yang menampilkan kebudayaan dan tradisi keagamaan seperti ini perlu didukung dan disemarakkan. Masing-masing kita mempunyai corak dan warna tradisi keagamaan berbeda. Kehadiran pelajar Indonesia di Turki lewat  kegiatan seperti ini sangat berguna dalam upaya dialog tradisi agama Islam antara Turki dan Indonesia,” apresiasi Yüksel Kahraman, perwakilan Pemerintah Kota Kayseri, dalam kata sambutannya.

Warga lokal Turki pun antusias ketika peragaan pakaian tradisional keagamaan, tampil live di panggung. Sampailah ke acara napak tilas ke situs-situs Islam di Kota Kayseri, paket menarik yang ditawarkan panitia. Kayseri sudah dihuni sejak 3000 tahun SM ini menyimpan banyak situs sejarah. Masa imperator Saljuk tercatat sebagai tanda masuknya Islam pertama di Anatolia. Situs-situs sejarah sisa Bani Saljuk abad 12 masih tersisa hingga kini, seperti komplek Masjid Hunat Hatun yang di dalamnya terdapat madrasah, hamam (tempat mandi bagi hurem raja), dan museum imperator Saljuk.

Jauh sebelum era Saljuk, Kayseri sudah dihuni berbagai peradaban yang datang silih berganti. Harus dicatat, kota-kota di Turki menyimpan sejarahnya masing-masing. Di Anatolia misalnya, situs-situs peradaban sejak zaman batu (Neolithic), Byzantium dan Romawi, era Saljuk hingga Usmani tergurat jelas berupa artefak dan bentuk-bentuk peninggaan lainnya yang mencengangkan.

Sempurnalah napak tilas ini sebagai proses belajar pada sejarah peradaban masa lalu manusia yang pernah ada di muka bumi. Dan akhirnya, panitia memboyong kami ke pucak gunung Erciyes untuk bermain ski, snowboard dan salju sepuasnya. Erciyes adalah paket lengkap menikmati kemegahan Kayseri. Fasilitas seperti teleferik, snowboard, kayak dan kar arabasi oyunu (permainan mobil-mobilan salju, untuk anak-anak) memanjakan semua pengunjung untuk menikmati salju di puncak gunung Erciyes. (b.je)





SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: