Thursday, 25 June 2015

Memahami Madzhab Lintas Benua

Sebagai sajian spesial Bulan Suci Ramadan, PCINU Turki mempersembahkan Ngaji Online dengan tema RAMADHAN DARI 5 BENUA. Ngaji Online minggu kedua Ramadan telah mengudara bersama Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, penulis, dosen dan peneliti di Fakultas Hukum, University of Wollongong, Australia, yang sebentar lagi akan mengajar di Faculty of Law, Monash University, di Melbourne. Acara Ngaji Online bertajuk "Belajar Mazhab kepada si Ujang: Aktualisasi Hukum Islam Lintas Benua" ini dipandu oleh Bernando J. Sujibto, mahasiswa pascasarjana jurusan Sosiologi University Selcuk, Turki pada 25 Juni 2015 pukul 20.00 waktu Australia, 13.00 EEST (waktu Turki) dan 17.00 Waktu Indonesia bagian Barat (WIB).
Seorang kiai yang sekaligus akademisi internasional ini sudah menulis banyak buku seperti Shari'a and Constitutional Reform in Indonesia(2007); Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era (2010); Mari Bicara Iman (2011);Modern Perspectives on Islamic Law (2013); dan buku terbaru dalam bahasa Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal hingga Memilih Mazhab yang Cocok (2015).
Topik kajian tentang mazhab tidak akan pernah selesai dalam diskursus dan praktik-praktik keagamaan umat Islam di seantero dunia. Poin-poin penting dalam diskusi yang disampaikan Prof. Kiai Nadir, sapaan akrabnya, adalah perpaduan antara hukum fiqh yang dinamis dan interpretasi terhadap teks-teks dan rujukan utama seperti Al-Qur’an dan Hadis. “Sebenarnya agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. adalah agama yang memudahkan bagi hidup kita. Jadi kalau ada orang yang membikin sulit, dia berarti lebih dari seorang nabi,” tukas Prof. Nadir.
Kajian Prof. Nadir ihwal mazhab dan hukum Islam, sebagai bidang keahliannya, tidak bisa dilepaskan dari konteks waktu dan tempat. Pengalaman-pengalaman praktis dan contoh-contoh ekspresi keagamaan dari berbagai latar belakang menjadi salah satu perhatian khsusus Prof. Nadir dalam mengembangkan studi hukum yang sudah ditekuninya. Misalnya, Prof. Nadir menceritakan sebuah pengalaman praktis yang terjadi di kota Brisbane, Australia. Ada seorang mahasiswa yang ambil wudhu di wastafel yang fungsi utamanaya (seperti di negara-negara lain yang bukan berpenduduk Muslim misalnya di Amerika ataupun Eropa) adalah untuk mencuci tangan atau muka. Tetapi ketika mahasiswa bersangkutan mencuci kakinya di wastafel, semua orang melihatnya dengan ekspresi jijik. Menanggapi praktik seperti itu, Prof. Nadir mengutarakan sebuah alternatif dalam memilih pendapat-pendapat ulama yang sejauh ini belum kita ketahui. “Ukhuwah islamiyah dalam praktiknya bukan harus sama dalam segala hal. Karena dalam praktik dan ekspresi keagamaan kita pasti berbeda di masing-masing tempat,” lanjutnya.
Prof. Nadir juga menyinggung ihwal Islam Nusantara yang baru-baru ini sedang ramai di Indonesia. Baginya Islam Nusantara adalah sebentuk ekspresi lokal dalam memaknai dan menerjemahkan teks agama Islam. Jadi misalnya seperti cara makan dengan tiga jari yang dipraktikkan oleh Rasulullah. Rasulullah memraktikkan makan dengan tiga jari kareka waktu itu memang tidak ada nasi. Ini yang disebut sebagai ekspresi lokal yang menjadi prinsip dalam Islam Nusantara.
Dalam sebuah dialog interaktif, ada pertanyaan dari pemiarsa yang ikut Ngaji Online tentang perbedaan mazhab. Misalnya di Turki yang mayoritas Mazhab Hanafi, apakah ketika mendirikan shalat sebagai makmum boleh mengikuti praktik Mazhab Hanafi? Bagi Prof. Nadir, “iya sebagai makmum harus ikut imam.”
Menanggapi pertanyaan tentang ruhsoh atau kemudahan dalam islam. Lalu bagaimana kita menentukan atau mengambil keputusan pada kemudahan sehingga tidak melampaui batas atau dalam artian keputusan tersebut bukan menurut hawa nafsu kita? Jawaban yang sangat menarik dan gamblang dari Prof. Nadir adalah tentang mengambil keputusan dengan landasan ilmu dan pengetahuan agama. Kalau tidak paham, harus bertanya kepada ahlinya. Jangan sampai menyepelekan dan mengikuti keinginan berdasar kepuasan hawa nafsu.
Dalam kesempatan Ngaji Onlie ini, Prof. Nadir juga memperkenalkan buku terbaru yang sudah beredar di Indonesia berjudul Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal hingga Memilih Mazhab yang Cocok (2015). Buku ini, terang beliau, merupakan jawaban atas praktik-praktik riil hukum Islam lintas benua. Sebagai kesimpulan, Prof. Nadir mengutarakan bahwa Islam itu top banget karena cocok buat semua tempat, buat Arab ataupun Indonesia, karena aspek yang diambil adalah sisi substansi dari Islam yang bisa diterapkan di berbagai tempat. Dalam Islam kita sudah tidak perlu mencari yang mudah-mudah karena sudah banyak kemudahan dalam Islam. (@_bje).



SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: