Friday, 11 December 2015

Isu Global Dalam Kemanusiaan dan Tantangannya

PCI NU Turki bersama beberapa mahasiswa Muhammadiyah di Turki beserta RUHUM (Indonesia Learned Society in Turkey) sukses mengadakan diskusi dengan judul “Isu Global Dalam Kemanusiaan dan Tantangannya” Sabtu (5/12) pukul 19.00 waktu Turki. Bertempat di Warung Nusantara Istanbul Dr. Rahmawati Husein hadir sebagai pembicara pada diskusi ini. Rahmawati Husein atau akrab disapa Ama adalah alumni doktor dari Texas A&M; University, dan saat ini menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik . Dia juga aktif dalam menangani isu humanitarian bidang bencana alam.
Pada diskusi yang berlangsung dua jam tersebut, Ama menyampaikan banyak hal mengenai isu kemanusiaan, diantaranya mengenai akan diadakannya 1st World Humanitarian Summit di Istanbul pada tahun 2016. Momen besar ini diadakan oleh PBB (United Nations) yang sudah diwacanakan kurang lebih 10 tahun. Mengapa Turki menjadi tuan rumah? Karena gerakan baru Turki dalam masalah kemanusiaan global antara Eropa dan Asia, khususnya setelah banyak konflik di negara-negara Timur Tengah. Turki pula yang menjadi gerbang antara Asia dan Eropa dalam hal refugees dan bantuan lainnya.
Ama mengungkapkan semua persoalan krisis kemanusiaan 70% disebabkan oleh konflik dan perang dibandingkan bencana alam. “Membahas kemanusiaan tidak hanya tentang korban bencana alam, melainkan penanganan dampak konflik peperangan itu sendiri. Bahkan dana terbesar yang keluar untuk menangani konflik dan perang dimana hampir 75% terjadi di negara-negara Islam, tiga besar penerima bantuan kemanusiaan itu ialah Sudan, Afganistan dan Irak, sekarang bertambah Suriah.”, tambahnya.
Sebelum World Humanitarian Summit digelar, dunia ini dibagi 8 regional membahas bantuan kemanusiaan  yang menjadi persoalan besar. Karena dana yang dibutuhkan semakin besar namun sumbangan tidak mencukupi. Masalah ini pula disinggung sumbangan yang hanya sesaat, kalau terjadi bencana alam saja akan datang banyak sumbangan. Ini yang kemudian dicari bentuk bantuan kemanusiaan yang efektif dalam World Humanitarian Summit.
Pentingnya keterlibatan organisasi keagamaan dalam gerakan kemanusiaan juga dijelaskan di forum diskusi ini. Berawal dari anggapan bahwa orang Islam tidak membantu sesama orang Islam, tetapi yang sering terlihat seperti Caritas, Karina, Rebana merupakan organisasi-organisasi non-Muslim. Padahal, di beberapa negara sudah banyak membantu hanya saja tidak terlalu diekspose. Oleh karena itu, gerakan ini diangkat ke tingkat Nasional, Regional, dan Internasional. Anggota HFI (Humanitarian Forum Indonesia) yang baru bergabung adalah NU, setelah  sebelumnya ada PKPU, Dompet Duafa, Muhammadiyah, Rumah Zakat, Caritas, Karina, Rebana,  dan banyak lagi organisasi kemanusiaan non-Muslim lainnya. Kedatangan Dr. Rahmawati Husein kali ini untuk menghadiri konferensi di Istanbul dan menjadi wakil negara-negara Asia Tenggara satu-satunya. Konferensi tersebut membahas organisasi kemanusiaan dari Muslim yang sudah ada tetapi sangat sedikit.
Adanya Lembaga Penanggulangan Bencana NU, Muhammadiyah, PKPU, dan Rumah Zakat dinilai sebagai suatu bagian kemandirian bangsa Indonesia. Mekanisme bantuan yang menjadi prinsip Indonesia sebagai contohnya, tidak request tapi menerima offer. Jadi, banyak sekali mekanisme dalam bantuan kemanusiaan yang harus diterapkan. Tidak bisa serta-merta negara lain mengintervensi karena kepentingan-kepentingan khusus. Kendati demikian ada juga tantangan berat, misalnya apabila pemerintah tidak meminta akan kekurangan bantuan.
Menilik bencana Tsunami pada tahun 2004, Ama menceritakan mulainya kesadaran bangsa Indonesia tentang pentingnya ahli-ahli bencana di Indonesia. “Minimnya lembaga kependidikan yang mempelajari Disaster Management ini yang menjadi catatan. Walaupun sudah banyak untuk program Magister, di Indonesia belum ada perguruan tinggi yang membuka jurusan tersebut untuk S1.”, kata Ama.
Ama menambahkan mengenai pemahaman masyarakat yang menganggap suatu bencana adalah sudah takdir Tuhan merupakan suatu persoalan yang juga harus dibahas. Inilah tantangan serius khususnya bagi kaum Muslim dengan bagaimana memaknai suatu bencana dalam perspektif teologi. Termasuk kearifan budaya lokal yang memberi pengaruh terhadap menyikapi bahaya bencana dapat disosialisasikan lebih luas.
Dalam World Humanitarian Summit juga akan dibicarakan sangkut paut antara kemanusiaan dengan development (pembangunan), karena penyebab yang mendorong rusaknya lingkungan adalah pembangunan itu sendiri.
Tanggapan masyarakat setelah terjadi bencana masih terkonsentrasi 90% terhadap respons, pesan Ama agar bagaimana respons itu dijadikan sebagai window opportunity (pintu masuk). Jalan ini melatih untuk awarness (kesadaran) setelah itu preparedness (kesiapsiagaan) kemudian mitigasi (persiapan bencana).
Setelah banyak materi yang telah disampaikan Dr. Rahmawati Husein, diskusi dilanjutkan sesi tanya-jawab oleh para peserta. Pertanyaan dan jawaban membuat diskusi lebih hidup. Forum diskusi ini selesai pukul 21.15 waktu Turki. [Achmad Jamalludin Sholeh]

SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: