Tuesday, 21 November 2017

Maulid Nabi di Turki


Minggu kemarin, tepat pada tanggal 1 Robiul Awwal 1439 H, para mahasiswa di kota Bursa, tempat lahirnya dinasti Ustmani; juga mereka yang di kota Konya, tempat bersemayamnya sufi besar Rumi, bersama-sama merayakan bulan besar kelahiran baginda Muhammad SAW.
Kyai Didik Andriawan, MA., kandidat doktor di Universitas Necmettin Erbakan, Konya, menjelaskan bahwa Maulid Nabi adalah sarana untuk bersuka cita dan bersyukur atas kelahiran Nabi sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Ia menambahkan, bahwa perayaan maulid Nabi adalah sebuah bentuk rasa syukur, tak perlu mengarah pada perdebatan seputar Bid'ah. Perbedaan pandangan ini dikarenakan masing-masing melandaskan pendapatnya pada metode yang berbeda: Bayani dan Burhani. "Menurut Abid al Jabiri, Bayani adalah metode pemikiran yang menekankan otoritas teks. Artinya sesuatu yg tidak ada di Alqur'an dan hadis maka tidak boleh dilakukan. Sedangkan Burhani adalah metode pemikiran yang menggunakan prinsip-prinsip akal yang dibangun di atas sebuah ilmu," jelasnya mahasiswa jurusan Tafsir ini.
Nah, dalam menghukumi perayaan Maulid Nabi ini, ada kelompok yang hanya menggunakan metode Bayani, namun ada juga yang Burhani. Jadi tak perlu saling mengharamkan.
Maulid Nabi ini diselenggarakan bersama dengan kegiatan diskusi yang diadakan oleh divisi pendidikan PPI Konya, Turki. "Kami menyelenggarakan Maulid ini dengan cara baik dan sederhana, seperti pengajian. Tidak dengan cara berlebihan," ungkap ketua penyelenggara di Konya, Medina Saumi.
Di Bursa sendiri perayaan Maulid Nabi berlangsung meriah. Bekerja sama dengan forum diskusi IMLA Ilahiyat, acara ini dihadiri sekitar 25 orang, acara dimulai dengan pembacaan Maulid Barzanji karya Sayyid Jafar dan dilanjutkan dengan tausiah ilmiah oleh Ahmad Sidqi, MA., M.Phil, kandidat doktor dari dua universitas berbeda: Universitas Bologna dan Universitas Uludağ. Dalam tausiahnya, ia menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang filosof besar, seperti yang dikatakan oleh Prof. Abdul Halim Mahmud. "Nabi adalah cahaya bagi bangsa Arab dan umat. Beliau adalah reformis bagi kultur dan adat orang-orang Arab yang gemar menyembah patung dan menyepelekan kaum perempuan. Beliau seorang reformis, feminis, serta rasionalis," pungkas kandidat doktor filsafat ini.
Acara berakhir tepat saat Maghrib berkumandang, ditutup dengan Bakso hangat Kang Ihsan dan makan bersama khas pondokan. (MM).


SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: