Sunday, 16 December 2018

Kucing dalam Tradisi Tasawuf


Seorang Imam di Masjid Aziz Mahmud Hüdayi


Oleh : Ahmad Munji (Mahasiswa S3 Marmara Univ)

Salah satu hewan yang memiliki hubungan dekat dengan manusia adalah kucing. Keberadaannya sering membantu kehidupan manusia, seperti menjaga dapur atau gudang makanan dari ancaman tikus. Beberapa dari kita juga memeliharanya karena menganggapnya sebagai hewan manja dan menggemaskan.

Dalam narasi Islam, ada beberapa cerita unik mengenai kucing. Tentang bentuknya yang mirip singa misalnya. Pada saat Nabi Nuh melakukan misi penyelamatan dari azab banjir bersama umatnya yang taat, tidak ketinggalan di dalam kapal yang mereka naiki juga terdapat tikus. Namun rupanya tikus-tikus itu dengan cepat berkembang biak dan mengancam stok makanan di kapal. Khawatir kehabisan bahan makanan karena dimakan tikus, Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikeluarkan dari masalah baru yang sedang menimpanya dan umatnya.

Sebagai jawaban atas doa Nabi Nuh, Allah memerintahkan singa-singa untuk bersin. Maka keluarlah dari hidung-hidung mereka kucing-kucing lucu. Riwayat lain mengatakan, Nabi Nuh mendapat wahyu untuk memegang kepala dan memasukan jari-jarinya ke dalam hidung singa, sehingga singa itu bersin dan keluar dari hidungnya dua kucing kembar.

Selain cerita itu, dalam tradisi Islam juga terdapat sahabat nabi yang mendapat julukan “bapak kucing” karena diceritakan dirinya sangat menyayangi kucing. Sebaliknya, terdapat sebuah hadis yang menceritakan seorang perempuan menjadi calon penghuni neraka karena mengikat seokor kucing, tidak memberinya makan, dan juga tidak melepasnya untuk mencari makan.

Cerita tentang hubungan antara kucing dengan manusia juga bayak ditemukan dalam kisah para sufi, misal cerita Ahmad ar-Rifai. Pada suatu hari, ada seekor kucing yang tidur di atas jubah ar-Rifai, dan sampai waktu shalat tiba, kucing tersebut masih tertidur. Melihat jubahnya digunakan sebagai alas tidur kucing, ar-Rifai tidak tega membangunkan. Dia lebih memilih memotong bagian jubah yang ditempati si kucing. Baru setelah ar-Rifai selesai melaksanakan salat, si kucing sudah bangun dan pergi meninggalkan potongan jubah sang syekh.

Cerita yang sedikit mirip dinisbatkan kepada Syekh Baqi Billah. Pada suatu malam, Baqi Billah ingin melaksanakan shalat tahajud. Namun, di atas selimut yang dia gunakan ada seekor kucing tidur yang membuatnya tidak bisa bangun. Khawatir si kucing bangun, Baqi Billah rela tidak bangun sampai waktu subuh datang.

Cerita yang lebih mengagumkan tentang kucing terdapat dalam kisah Abu Bakar as-Sibli, seorang sufi dari kota Baghdat meninggal pada 334 H. Setelah kematiannya, di alam baqa salah satu dari sahabatnya bertemu dengan as-Sibli, lalu dia bertanya, “Bagaimana Allah memperlakukan kamu wahai Sibli?”

Sibli menjawab seraya bercerita, “Saya diperlakukan dengan istimewa oleh Allah. Allah bertanya kepada saya, 'Sibli, tahukah kamu mengapa Aku memperlakukanmu dengan sedemikian baik?'”

Sibli menjawab, “Karena saya mengerjakan perbuatan-perbuatan baik”. Kemudian Allah menjawab, “Bukan”.

Sibli menjawab lagi, “Karena saya beribadah dengan ihklas dan tulus”. Allah masih menjawab, “Bukan”.

Sibli menjawab lagi, “Jarena saya haji, puasa, dan shalat”. Allah masıh menjawab, “Bukan”.

Sibli bingung apa yang membuatnya diperlakukan dengan sebaik ini. Lalu Allah menjelaskan, “Kamu ingat? Kamu pernah pergi ke sebuah jalan di salah satu pojok kota Baghdad. Di sana kamu menemukan seekor anak kucing kedinginan, dan dengan penuh kasih sayang kamu merawatnya".

Lalu Sibli menjawab, “Iya wahai Allah, saya ingat itu”. 

"Karena kamu telah memperlakukan kucing itu dengan penuh kasih sayang, maka Aku memperlakukan kamu dengan perlakukan yang sama.”

Tentu memberikan perlakuan baik kepada kucing adalah simbol yang tidak boleh berhenti pada kucing. Apa yang telah dilakukan oleh para sufi kepada kucing juga mesti diterapkan kepada hewan dan makhluk yang lain. Adalah terang bahwa Allah memerintahkan kita umat manusia untuk memperlakukan hewan dengan baik, apalagi dengan sesama manusia.


SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: