Wednesday, 2 January 2019

Pencinta Al-Qur'an Menista Agama?





oleh Savran Billahi*

Rasulullah adalah sosok yang lemah lembut terhadap siapa pun, termasuk kepada para kafir Quraisy. Namun dalam catatan hadis, Rasulullah diketahui beberapa kali naik pitam, di antaranya ditujukan kepada para sahabat yang sangat bersemangat dalam beragama. Sebagai hadis, teguran langsung untuk sahabat itu menjadi peringatan dan pelajaran kepada umatnya sampai hari akhir.

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Abu Mas'ud, "Seseorang lelaki berkata: 'Wahai Rasulullah, saya ingin datang agak telat saat shalat jamaah Subuh, karena imam si fulan memanjangkan bacaannya.' Rasulullah pun Marah. Aku (Abu Mas'ud) tidak pernah melihat beliau marah melebihi marahnya saat itu. Kemudian beliau bersabda: 'Wahai manusia sekalian, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan orang lain dari agama Allah. Barangsiapa menjadi imam shalat maka hendaklah memperpendek bacaannya, karena dalam deretan makmum ada orang lemah, lanjut usia, dan memiliki keperluan.'"

Imam Bukhari juga meriwayatkan hadis Jabir bin Abdullah al-Anshari, ia berkata:

"Ada seseorang datang dengan membawa dua ekor unta Nadhih (pengangkut air untuk menyiram tanaman dan kebun) ketika hari menjelang malam. Ia mendengar Mu'adz sedang shalat. Ia pun meninggalkan untanya dan ikut shalat berjamaah bersama Mu'adz. Kemudian Mu'adz membaca surah al-Baqarah dan an-Nisa, hingga ia pun meninggalkan Mu'adz (untuk shalat sendiri). Lantas ia mendengar berita bahwa Mu'adz mengecam tindakannya. Akhirnya orang tersebut menemui Rasulullah, dan mengadukan perbuatan Mu'adz itu. Rasulullah bersabda: 'Wahai Mu'adz, apakah kamu menjadi pembuat fitnah?' Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. 'Kamu bisa membaca surah al-A'la, al-Syams, dan al-Lail, karena para makmum di belakangmu ada orang yang berusia lanjut, lemah, dan memiliki keperluan.'"

Pada saat itu, umat Islam mengalami kebingungan karena tindakan sahabat yang begitu bersemangat, memanjangkan bacaan shalat hingga memberatkan makmum. Banyak di antara makmum memilih keluar dari shalat berjamaah untuk shalat sendiri. Lebih-lebih, ketika sahabat yang bersemangat itu mengatakan orang yang memilih shalat sendirian adalah orang munafik.

Orang-orang kemudian mengadu kepada Rasulullah. Lantas siapakah yang terkena marah? Rasulullah mengatakan, para sahabat yang memanjangkan bacaan shalat sebagai munaffir, orang yang menjauhkan orang lain dari agama Allah.

Cinta Buta terhadap Al-Qur'an


Selain itu terdapat hadis yang mengherankan dengan makna serupa. Hudzaifah meriwayatkan, Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah seseorang yang membaca Al-Qur'an, sehingga terlihat kebesaran Al-Qur'an pada dirinya. Dia senantiasa membela Islam, kemudian ia mengubahnya, lantas ia terlepas darinya. Ia mencampakkan Al-Qur'an dan pergi menemui tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya syirik. Saya (Hudzaifah) bertanya: 'Wahai Rasulullah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak atas kesyirikan, yang dituduh ataukah yang menuduh?' Beliau menjawab: 'Yang menuduh.' (H.R. Bazzar).

Al-Haitsami dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan Abu Ya'la dalam Musnad-nya menganggap kualitas hadis ini hasan. Sementara Ibnu Katsir mengomentari sanad hadis ini jayyid. Usamah Sayyid al-Azhari dari Universitas Al-Azhar Mesir menganggap hadis ini penting untuk mendeskripsikan kondisi yang mengherankan dari orang-orang yang memiliki semangat keberagamaan yang kuat.

Menurutnya, orang-orang yang terlalu bersemangat beragama mengalami tahapan yang membingungkan. Dimulai dari mencintai Al-Qur'an, membaca bahkan menghafalnya, tenggelam di dalamnya, lalu bersinar cahaya kitab suci itu padanya. Namun, kemudian ia mengafirkan umat Islam, mengangkat senjata, dan menumpahkan darah. Pada akhirnya, seperti yang disebut hadis, "ia mengubah ayat Al-Qur'an".

Usamah Sayyid al-Azhari menerangkan, perubahan itu bukan berarti mengganti redaksi ayat, tetapi mengubah makna sebenarnya yang disampaikan Al-Qur'an. Sadar ataupun tidak. Orang seperti, lanjut Usamah Sayyid, terbuai dengan obsesi menjadi seorang pengambil hukum (istimbath) dari Al-Qur'an. Namun, ia tidak memiliki korpus pengetahuan teori ilmiah yang jelas, di samping tertutupi oleh semangat keberagamaannya, dan sikap reaktif.

Ia cenderung menafsirkan Al-Qur'an dengan fantasi dan istimbath sendiri, kemudian menutupi kelemahan metodologisnya dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an.

Orang-orang yang melihatnya kemudian bingung dengan jati dirinya, apakah ia telah menyimpang, atau usahanya itu sebagai sikap berkhidmah pada Al-Qur'an. Sebagian orang ikut menyebarkan metode berpikirnya karena menganggap ia adalah orang yang dekat dengan Al-Qur'an. Sebagian orang mengambil sikap membencinya, bahkan berprasangka terhadap Al-Qur'an dan Islam secara umum.

Contoh Kekinian

Pada masa kontemporer, tidak sedikit muslim yang menggambarkan hadis itu. Salah satu yang paling disorot dunia kini adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Turki bin Mubarak al-Ban'ali pada al-Lafdz al-Sani fi Tarjamah al-Adnani, mengupas Abu Muhammad al-Adnani Taha Subhi Falaha, orang kedua ISIS sangat terinspirasi oleh Fi Dzilal al-Qur'an karya Sayyid Qutb, seorang ulama yang sudah hafal Al-Qur'an sejak kecil. Bahkan ia membaca kitab itu berulang kali selama 20 tahun, dan ingin menulisnya kembali dengan tangannya sendiri.

Sebelum itu, Saleh Sariyah pada Risalah al-Iman juga menganggap masyarakat saat ini adalah jahiliah, dan menghadirkan konsep Dar Harb (wilayah perang). Ada pula Syukri Musthafa dan kelompok al-Takfir wa al-Hijrah, atau Muhammad Abdus Salam Farj dengan organisasi jihadnya dan karya al-Faridhah al-Ghaiyyah. Serta banyak pula ulama atau organisasi serupa di berbagai belahan dunia yang seperti digambarkan Rasulullah.

Pada akhirnya, tulisan ini juga bukan untuk menyalahkan apalagi mengatakan lebih jauh, mengafirkan seseorang atau kelompok. Tetapi sudah menjadi jelas bahwa rasa cinta terhadap agama perlu diiringi oleh ilmu yang tepat dan rasa sensifitas terhadap manusia, seperti yang Rasulullah lakukan kepada sahabat akibat perilakunya.

Agar kecintaan kita terhadap Al-Qur'an dan hadis sebagai sumber utama berislam tidak berbalik menjadi pintu awal menistakan Islam itu sendiri. Wallahua'lam bi as-shawab.


*Penulis adalah mahasiswa S2 Ilmu Sejarah Hacettepe Üniversitesi 


SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: