Saturday, 2 March 2019

Pendidikan Dapur ala Para Sufi






Selain ritual ibadah uzlah (pengasingan diri), para sufi memiliki tradisi kuliner khusus sebagai upaya riyadhah al-nafs (penempaan diri). Di lingkungan penganut tasawuf Maulana Jalaludin Rumi, Maulawiyah, dapur dijadikan sebagai tempat perguruan para sufi.

Di dapur, mereka yang ingin menjadi sufi dididik agar matang secara mental dan spiritual. Can (dibaca: Jan) atau dalam literatur lain juga disebut Nevniyaz, yaitu calon sufi, harus memasak makanan hingga matang. Tetapi sebelum itu, selama tiga hari pertama, mereka harus duduk di depan pimpinan para sufi (Pir) di sudut dapur, tanpa keluar sama sekali. Mereka dididik untuk mengamati dan mempelajari segala yang ada.

Pada akhir hari ketiga, pemimpin para sufi akan memutuskan kandidat sufi apakah ia bisa melakukannya (memasak) atau tidak. Jika bisa dan mendapatkan persetujuan dari pimpinan para sufi, Nevniyaz harus memulai masa percobaan selama 1001 hari untuk ia habiskan waktunya di dapur.

Bagi yang dianggap bisa melalui percobaan 1001 hari itu, mereka akan disebut sebagai Somad. Setelah itu, mereka diuji dengan melakukan 18 tugas berbeda. Mulai dari membersihkan toilet hingga pekerjaan di dapur, serta belajar sema (ritual tari sufi) atau Ney (meniup seruling) dari para senior seperguruan. Pada periode itu, kandidat akan dikeluarkan dari perguruan jika berperilaku tidak sopan atau melakukan kejahatan.

Dalam hal ini, dapur berperan penting sebagai wadah sosialisasi para sufi guna membentuk kepribadian yang kuat. Setelah masa-masa itu selesai, ia akan diterima di perguruan dan akan menjadi seorang sufi.

Itulah latar belakang munculnya ungkapan para sufi, “Aku mentah, aku dimasak dan aku terbakar” atau dalam bahasa Turki “hamdım, piştim, yandım”.



Menjadi Table Manner Masyarakat Turki

Sekitar abad 13, Konya merupakan kerajaan penting di Anatolia. Kerajaan itu dikenal memiliki tradisi kuliner dengan cita rasa tinggi.

Tradisi kuliner yang dikembangkan di lingkungan para sufi perguruan Maulawiyah menjadi warna tersendiri bagi budaya kuliner Seljuk, dan menyebar menjadi landasan table manner masyarakat Turki.

Adab menyantap makanan menjadi landasan para sufi. Para sufi biasanya makan dua kali dalam sehari, yaitu siang dan malam. Setelah makanan siap dihidangkan, Nevniyaz yang bertugas sebagai pemasak membuka tutup hidangan sambil berdoa, lalu makanan dibagikan di atas nipan. Petugas pengisi air pun dengan sigap mengisikan air di gelas-gelas yang akan dipakai para sufi. Setelah hidangan siap, salah seorang Nevniyaz bertugas memanggil para sufi. Para sufi memasuki dapur dengan mendahulukan kaki kanan sambil mengucap salam. Pimpinan para sufi dipersilakan masuk dan duduk, lalu para sufi lain mengikutinya.

Sebelum makan, sirup mawar disajikan. Selanjutnya, para sufi mengambil garam dengan jari telunjuk lalu mulai makan. Dalam menyantap hidangan, pertama-tama, mereka meminum sup hangat, kemudian menyantap makanan inti. Saat makan mereka tidak boleh berbicara, mengunyah dengan suara, mengamati kawan sekitar yang tengah makan, dan makan terlebih dahulu sebelum yang lain.

Petugas pengisi air sigap menunggui para sufi yang tengah menyantap dengan memegang gelas di tangan kanan dan teko air di tangan kiri. Para sufi memberikan isyarat dengan menggunakan roti untuk meminta air tersebut. Setelah selesai minum, mereka meletakkan tangan ke dada, dan saling memberi salam antara mereka. Terakhir, nasi sebagai makanan inti dihidangkan. Setelah selesai menyantap, pimpinan sufi memimpin doa dan diamini oleh para sufi. Setelah selesai menyantap, mereka kembali meletakkan jari telunjuk ke dalam garam, lalu meninggalkan meja.

Semua sopan santun itu kini menjadi bagian dari budaya santapan dan hidangan di Turki, meskipun budaya perguruan Maulawiyah jauh lebih halus dan sopan. Ritual santapan itu merefleksikan hak-hak dan hukum, juga tentang kasih sayang dan rasa hormat antar sesama.

Makanan sebagai Keindahan
Menurut Dr. Halıcı, budaya makanan Maulawiyah adalah cerminan pada filsafat mereka yang selalu mengedepankan keindahan untuk mencapai Allah.

Sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi pun dalam masterpiece Matsnawi banyak menyebutkan makanan sebagai wahana berekspresi. Dari sana kita juga bisa mengetahui serba-serbi makanan pada masa Rumi ketika hidup, yakni abad ke-13.

Untuk sayuran, pada Matsnawi Rumi menyebut daun bawang, terong, zucchini, seledri, bayam, bawang, bawang putih. Untuk buah-buahan, apel, quince, delima, pir, persik, ara, melon, semangka. Sementara untuk kacang dan keju, lentil, buncis, buncis, buncis, kacang kenari, almond, hazelnut, yogurt, susu mentega.

Makanan dan minuman seperti adonan filum, roti desa, roti daging (etli ekmek), pai, donat, madu, sirup gula, halva dan sirup juga banyak disebutkan dalam Matsnawi.

Pada periode Maulawiyah, sesuai dengan nilai sufisme, makanan dihidangkan dengan gaya sesederhana mungkin. Memasuki era Turki modern, makanan yang berasal dari tradisi Maulawiyyah dihiasi lebih banyak dekorasi dan kehalusan racikan.

Sebagai contoh etliekmek. Warisan kuliner tradisi Maulawiyah ini kini sudah menjadi ikon makanan Konya. Makanan berdasar roti yang disebut "pide" di kota-kota lain, telah mendapatkan ketenaran kontemporer karena diproduksi lebih rumit di Konya.



Etliekmek pertama dibuat di rumah Raziye Hatun Hanı dan menjadi makanan yang diutamakan di perguruan Maulawiyah. Sedangkan di era modern 1900an hingga sekarang, dijadikan menu sandingan oleh para pedagang kebab maupun dijadikan menu utama di restoran-restoran yang secara spesifik menjual etliekmek.

Ini adalah contoh yang tepat untuk menunjukkan penggunaan semua keindahan dalam mencapai Allah melalui dapur dan meja makan. Wallahu'alam.

Penulis: Dwi Retno Widiyanti
Editor: Savran Billahi

SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: