Thursday, 8 August 2019

PBNU Suarakan Keutuhan Bangsa di Turki




Ankara (Ahad, 28/07) -  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara bekerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki mengundang Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tasyakuran kemerdekaan RI ke-74 di Wisma Duta KBRI Ankara. Tasyakuran diisi dengan pembacaan shalawat nabi tim hadrah PCINU dan pengajian umum Rais Syuriah PBNU K.H. Manarul Hidayat.

Dubes RI Lalu Muhammad Iqbal serius mengundang kiai-kiai NU pada tasyakuran kemerdekaan RI. Keseriusan itu terlihat dari undangan yang hadir, antara lain K.H. Miftahul Akhyar (Rais Am PBNU), K.H. Manarul Hidayat (Rais Syuriah PBNU), dan K.H. Zulfa Mustofa (Katib Syuriah PBNU). Hadir Pula Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, K.H. Mahbub Maafi Ramdlan dan Ketua PP NU Care-LAZISNU, Achmad Sudrajat.

Pada tasyakuran bertema “Semangat Islam dan Kebangsaan” itu, Kiai Manarul mengajak seluruh masyarakat Indonesia di Turki untuk memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad dan bangsa Indonesia. “Tugas ulama adalah menjaga himayatul diniyah (keagamaan) dan wataniyah (kenegaraan),” kata dia.

“Maksudnya, menjaga nilai keislaman, baik dari sisi akidah maupun kenegaraan”, lanjut Rais Syuriah PBNU itu.

Tasyakuran dengan Masyarakat Berbagai Elemen



Tasyakuran tidak hanya dihadiri warga NU, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia di Turki, antara lain, Muhammadiyah, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor, Ikatan Keluarga Masyarakat Aceh (Ikamat), dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Turki.

PCINU Turki juga mengundang puluhan santri Indonesia di Sulaimaniye Ankara dan kelompok gelin (masyarakat Indonesia yang menikah atau menetap di Turki).

Mereka mengikuti tasyakuran dengan antusias. Terlihat dari gelak tawa mereka ketika Kyai Manarul meluncurkan humor-humor khas NU. Dalam sesi tanya jawab, mahasiswi Indonesia Universitas Istanbul Medeniyet, Dwi Retno menanyakan tentang keanggotaan NU dan konsep warga negara (al-muwatin) yang sempat ramai pasca diputuskannya hasil bahtsul masail MUNAS dan KONBES Nahdlatul Ulama 2019.

Menurut KH. Zulfa Mustofa, siapapun yang mempunyai pandangan keislaman yang tawassuth, tawazun, dan tasamuh maka dia termasuk nahdliyin.

“Al-muwatin yang menjadi putusan bahtsul masail merupakan ijtihad ulama-ulama NU untuk menjawab status kafir dalam konteks bernegara di Indonesia,” tambah KH. Mahbub Maafi Rahmdlan.

Menurutnya, dari segi hukum bernegara non-muslim di Indonesia tidak bisa diklasifikasikan pada salah satu jenis kafir dalam fiqih (kafir zimmi, kafir mu’ahad, kafir musta’man, dan kafir harbi). Tetapi secara akidah, non-muslim di Indonesia tetap disebut kafir.

“Jadi tidak ada niatan untuk mengubah kalimat kafir dalam Al-Quran itu” tandasnya.

Rombongan PBNU berada di Turki selama 5 hari. Sebelumnya, PBNU berkunjung dan menginisiasi kerja sama dengan beberapa instansi di Turki seperti Maarif Foundation, Diyanet Turki (lembaga keagamaan pemerintah), dan Mufti Konya.

Ketua PCINU Turki, Ahmad Munji menyatakan warga Nahdliyin siap membantu kerja sama tersebut dan berharap dapat terwujud secepatnya. Selain kunjungan-kunjungan itu, PBNU juga melakukan ziarah ke beberapa makam wali dan ulama di Turki, seperti Abu Ayup Al-Ansari (Istanbul), Osman Orhan (Bursa), dan Jalaludin Rumi (Konya).

Ridho/Savran

SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: