Thursday, 21 May 2020

Sambut Idul Fitri di Tengah Pandemi, PCINU Turki dan Arab Saudi Jalin Silaturahim Menghidupkan Kesalehan Sosial




Istanbul/Riyadh (21/05) - Menjelang Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi, PCI-NU Turki dan Arab Saudi menginisiasi silaturahim melalui aplikasi Zoom untuk menghidupkan kesalehan sosial di masyarakat. Silaturahim yang dipandu Aufal Arrafy dan Faiz ini diisi dengan ceramah publik Katib Syuriah PBNU K.H. Sa'dullah Affandy mengenai lebaran, pandemi, dan ujian kesalehan sosial.

Kiai Sa'dullah menekankan bahwa Al-Qur'an mendorong umat manusia untuk bersifat saleh kepada seluruh makhluk-Nya.

"Di dalam Al-Qur'an, Allah sudah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk melaksanakan tindakan baik kepada siapa pun. Bahkan juga kepada alam secara luas," kata dia.

Lebih lanjut, Katib Syuriah yang juga Atase Ketenagakerjaan KBRI Riyadh ini juga menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengulang kata "saleh" dengan berbagai sigath (bentuknya) hingga ratusan, baik dengan redaksi kata "saleh", "muslih", "islah", dan sebagainya.

"Al-Qur'an bicara banyak tentang kesalehan. Kata-kata kesalehan dalam berbagi bentuknya terulang di dalam Al-Qur'an hingga 180 kali. Bahkan bila digabungkan dengan kata sinonimnya, seperti al-hasan, muhsin, dan sejenisnya terulang hingga 652 kali."

Hal itu menurutnya, memperlihatkan keseriusan Allah dalam mengajak seluruh umat manusia agar berbuat saleh.

Lebih lanjut lagi, kesalehan dalam Al-Qur'an selalu dihubungkan dengan kata iman sebanyak 60 kali. "Ini menunjukkan ke kita bahwa keimanan adalah fondasi dasar dalam beramal saleh," ujar Katib Syuriah PBNU itu.

Kesalehan Itu Arif

Al-Qur'an membangun tiga hubungan yang mesti dipahami, yaitu hubungan kepada Allah, diri sendiri, dan lingkungan.

"Amal saleh tidak cukup melaksanakan rukun iman dan Islam saja, tapi akan lebih sempurna bila didaraskan untuk memenuhi kepentingan lingkungan kita. Bila tidak, artinya agama belum memainkan perannya," tegas Kiai Sa'dullah.

Menurutnya, saleh adalah ketika seseorang bisa menciptakan rasa aman bagi manusia yang lain. Mengatasnamakan saleh tetapi ia merusak berarti ia tidak tepat bila dikatakan saleh. Perlakuan itu dalam Islam disebut mufsid atau merusak, kebalikan dari saleh.

Lanjutnya, saleh juga bisa berarti arif dalam mengelola pembangunan. "Tidak ada eksploitasi, menghindari penggusuran, tidak merusak, dan sejenisnya itu saleh" ujar dia.

Kesalehan Kolektif Adalah Fondasi Peradaban

Selain arif, kesalehan kolektif dalam masyarakat menurutnya adalah fondasi dasar peradaban. "Penting kiranya untuk memberikan definisi terhadap kesalehan. Kesalehan adalah arif dan memberikan manfaat seluas-luasnya. Kesalehan kolektif adalah fondasi peradaban. Itu yang disebut dan dilakukan para sufi terdahulu," kata dia.

Al-Qur'an dalam hal ini datang ke muka bumi tidak sebatas meluruskan akidah apalagi salat semata. Tapi fungsi lain adalah sebagai pelindung alam dari penyimpangan dan ajakan konsistensi terhadap kebaikan.

Kiai Sa'dullah menyebutkan, anjuran dan ganjaran berbuat saleh serta beriman bukan hanya diperuntukkan untuk umat Islam. Seperti yang ditemukan dalam tesisnya di PTIQ Jakarta, ada beberapa redaksi AL-Qur'an yang menunjukkan itu, antara lain surat Al-Imran: 114, Al-Baqarah: 62, Al-Maidah 69, dan Al-Hajj 17.

"Namun tujuan berbuat saleh adalah mengharapkan ridha Allah. Ciri-ciri amal saleh adalah pesan-pesan yang baik dan kesabaran," kata dia.

Silaturahim yang merupakan rangkaian penutup kajian Ramadhan PCI-NU Turki ini ditutup oleh Kiai Guslik An-Namiri (PCI-NU Arab Saudi) dan Ahmad Munji (PCI-NU Turki) serta doa dari Kiai Kholil Ghozali.

Savran Billahi (PCI NU Turki)

SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: