Saturday, 27 March 2021

Peringatan Isra’ Mi’raj PCINU Turki: Semangat Membumikan Tasawuf di Era Milenial

 


Turki - Dalam nuansa keterbatasan era pandemik Covid-19, alhamdulillah para Nahdliyin di Negeri Dua Benua Turki masih dapat mengadakan Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peringatan Isra Mi’raj kali ini diselenggarakan dalam format Webinar pada Kamis, 25 Maret 2021 pukul 13.30-16.45 TRT / 17.30-20.45 WIB. Acara dilaksanakan secara virtual melalui platform Zoom. Pada acara ini, bekerjasama dengan NUTV, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Turki (PCINU Turki) selaku panitia acara juga menyiarakan Webinar ini secara live melalui channel YouTube NUTV.

Peringatan Isra Mi’raj kali ini mengangkat tema “Membumikan Tasawuf di Era Milenial” dengan menghadirkan Syaikh Fadhil Jailani (Mursyid Thoriqoh Qodiriah), Syaikh ala Muhammad Banimah (Ahli Hadits Universitas Al-Azhar dan Dai Internasional) dan KH. DR. (Hc) Husain Muhammad (Pengasuh Ponpes At-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, Fahima institut dan Penulis Buku). Webinar ini dimoderatori oleh Ustadz Ahmad Fauzan, seorang Mahasiswa Magister di Universitas Istanbul Sabahattin Zaim. Adanya kesempatan untuk dapat belajar secara langsung kepada Guru-Guru Mulia ini merupakan keberkahan yang patut disyukuri mengingat sulitnya untuk dapat bertemu dengan Mereka secara langsung.



Pengangangkatan tema tasawwuf memang menjadi penting di Era Millenial ini disaat banyaknya arus informasi yang dapat mendistorsi makna Ilmu Tasawwuf.  Bahkan hal ini ditegaskan juga oleh Ketua Acara Muhammad Aga Yudha bahwa Ilmu Tasawwuf penting dipahami dalam posisi yang tepat. Menurutnya, jika Ilmu Tasawwuf dipahami, digurui, dan dijalankan secara salah akan merusak dan menjadi candu yang fatalistik.

Rais Syuriah PCINU Turki, Ahmad Munji, dalam sambutannya juga menjelaskan dengan cukup jelas alasan mengapa tema Tasawwuf menjadi penting untuk diangkat dalam acara ini. Menurutnya, secara khusus di masa pandemik ini, tasawuf pada dasarnya dapat menjadi jawaban dari segala problematika yang dihadapi umat manusia di berbagai sejarah. Lebih lanjut, Gus Munji, sapaan akrabnya, menukil dawuh Sayid Husein Nashir asal Iran, “Manusia, pada dasarnya sedang mengalami Nestapa Dunia Modern. Manusia memang diberikan serba kemudahan dengan adanya teknologi modern. Namun sayangnya, mereka jauh dari spiritualitas atau Tasawuf” tegasnya.

Selaku pemateri pertama dalam acara ini, Syaikh Fadhil Jailani yang merupakan keturunan dari Syaikh Abdul Qodir al Jailani menjelaskan pentingnya kedudukan orang yang berilmu. Beliau menjelaskan, “Siapakah yang mewarisi tugas para Nabi? Jawabannya adalah orang yang berilmu. Ulama adalah pewaris para Nabi (HR Imam Tirmidzi dan Abu Dawud). Oleh sebab itu Syaikh Fadil menegaskan bahwa agama ini sejatinya diwariskan kepada yang orang-orang yang berilmu. Dalam kesempatan ini Syaikh Fadhil juga ikut menjelaskan perihal Thariqoh Qadiriyah. Thoriqah Qadiriyah sendiri lebih mengedepankan ilmu agama dalam segala aspek. Menerut Beliau, inti dari Thoriqah Qadiriah al Aliyah adalah ilmu.

Selaku pemateri kedua, Syaikh Ala Muhammad Banimah jugaikut menguatkan apa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Fadhil. Syaikh Ala Banimah berkata, “Asas utama bagi orang-orang yang ingin belajar ilmu Tasawuf adalah memiliki ilmu agama, paham agama, dan wawasan agama yang luas juga.” Syaikh Ala Banimah juga menjelaskan pentingnya belajar ilmu Tasawuf khususnya di era dewasa ini dimana semakin banyaknya kelompok-kelompok garis keras bermunculan. Dalam penjelasan Beliau, sebelum menghukumi sesuatu (buruk atau baik, red) hendaklah kita memahami hal itu dulu dengan baik (tashawwur). Untuk mengetahui apakah ilmu tasawuf ini baik atau buruk, harusnya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu ilmu tasawuf. Beliau menegaskan bahwa ilmu yang mengajarkan agar kita memiliki akhlak yang baik, memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT, memiliki hubungan yang baik juga dengan sesama manusia, hanya diajarkan di Ilmu Tasawwuf.

Selaku pemateri terakhir, KH. DR. (Hc) Husain Muhammad sempat menjelaskan tasawwuf dengan analogi pohon dimana Iman (Tauhid) sebagai akar, Islam (Syariat) sebagai dahan serta Ihsan (Tasawwuf dan Akhlaq) sebagai buah. Oleh karenanya Beliau menegaskan bagaimana syariat pada dasarnya bukanlah tujuan, ia justru menjadi jalan agar kita sebagai makhluk dapat menjadi insan yang bermanfaat kepada alam semesta. Beliau juga dalam kesempatan ini menceritakan bahwa sufi sendiri terinspirasi dari 2 Nabi, yakni Nabi Musa AS dan Nabi Daud AS. Beliau menukil dari kitab (Perjanjian) lama, “para nabi pun bertanya, “Dimana kami bisa menemukanMu wahai Tuhanku?” maka Allah pun menjawab, “Temui aku di tengah-tengah mereka yang hatinya terluka”. Jadi, menurut Beliau di sinilah fungsi utama seorang sufi, yakni ketika seorang hamba dapat di setiap harinya berusaha untuk selalu mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Beliau melanjutkan, “sebagaimana yang ada di hadis Kudsi, Allah berfirman kepada hambanya “Wahai hambaku, sesungguhnya aku lapar. Kenapa kamu tidak memberiku makanan?”. Maka hambaNya pun menjawab, “Bagaimana Engkau lapar, padahal Engkaulah yang memiliki alam semesta ini?”. Maka Allah pun menjawab, “Iya betul, tapi hambaku si Fulan dan fulan lapar. Kenapa kamu tidak memberi makan mereka? Andaikan kamu memberi mereka makanan maka kamu akan menemukan DiriKu”. Dalam penjelasan ini dapat dipahami bagaimana luasnya pandangan seorang hamba jika dapat melihat sekelilingnya dengan pandangan yang didasari ilmu tasawwuf. Pada akhirnya, Kyai Husein menjelaskan bahwa Beliau memang condong untuk menerangkan tasawuf dari persepektif yang Beliau jelaskan dalam forum ini, bukan dari persepektif individualistik.

Sebagai penutup, kesempatan Isro Mi’roj ini menjadi momentum yang penting bagi setiap Muslim untuk dapat berefleksi atas eksistensinya sebagai hamba sekaligus khalifah Tuhannya di muka bumi. Melalui pembelajaran Ilmu Tasawwuf, semoga kita dapat memahami bagaimana menjalankan segala amanah atas penciptaan kita dengan sebaik-baiknya. Pun semoga kita dapat menjadi insan yang dapat menawarkan kemanfaatan sebagai buah dari adanya iman dan islam. Hingga nantinya di akhir kita dapat menjadi insan yang pulang dalam keadaan dan hati yang selamat.


Pewarta: R. Shaleh


SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: