Sunday, 30 May 2021

Refleksi 568 Tahun Konstantinopel Ditaklukkan

 Oleh: Muchammad Abdur Rochman*




29 Mei selalu diperingati sebagai hari ditaklukkannya Ibukota Pemerintahan Byzantium, Konstantinopel. Sang penakluk, Sultan Mehmet II atau yang lebih dikenal dengan Sultan Mehmet Al Fatih berhasil menaklukkan wilayah itu ketika berusia 21 tahun. Penaklakukan ini pastinya menjadi sebuah capaian keberhasilan yang sangat brilian. Terutama mengingat umur Sang Penakluk masih muda dan yang ditaklukkan merupakan ibukota negara Byzantium, negara yang pernah menguasi seluruh Eropa, Asia Barat dan Afrika Utara.

Di Indonesia, sosok Sultan Mehmet Al Fatih selalu dijadikan sosok panutan untuk generasi muda Islam. Tiap tanggal 29 Mei, dapat ditemukan puluhan seminar terkait semangat, kehebatan, dan mimpi sang Al Fatih. Tentunya hal ini perlu diapresiasi mengingat dampak positif yang memengaruhi generasi muda Islam. Hal ini membuat generasi muda Islam di Indonesia semakin percaya diri untuk menampilkan dan mengungkapkan identitasnya sebagai muslim.

Ditambah dengan adanya sosok presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang begitu masyhur sebagai pemimpin yang tegas dan islamis. Erdogan juga telah berhasil mengembalikan fungsi Hagia Shopia menjadi Masjid setelah sebelumnya berstatus museum. Foto Sang Presiden seringkali disandingkan dengan Mehmet Al Fatih. Sebab keduanya sama-sama mengubah fungsi Hagia Shopia menjadi masjid.

Terlepas dari apa yang menimpa Erdogan saat ini karena isu Israel-Palestina, sosok Erdogan benar-benar berhasil mencuri hati para pemuda dan pemudi muslim Indonesia. Dan yang menarik, Pecinta Erdogan memanfaatkan momentum ini dengan menggaungkan kembali hadits yang dulu digunakan untuk menaklukkan Konstantinopel. Hadisnya begini;

“Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139)

Hadis di atas merupakan hadis yang selalu diungkapkan ketika seminar 29 Mei. Bahwa Nabi Muhammad SAW telah mewartakan akan datang seorang pemimpin dan pasukan yang bisa menaklukkan Konstantinopel. Bahkan Nabi Muhammad SAW telah menjamin bahwa panglima dan pasukan yang berhasil itu adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan.

Tentunya memahami hadis itu tidak bisa sepotong saja, memahami hadis itu haruslah secara keseluruhan. Seminar yang selama ini dilakukan tiap tanggal 29 Mei lebih banyak membahas dan mendiskusikan tentang sang panglima. Padahal dalam hadis itu, bukan hanya sang panglima yang disebutkan, ada kalimat ‘pasukan’ juga. Lantas, bagaimana kondisi dan keadaan pasukan yang ikut menaklukkan Konstantinopel? Apakah mereka se-keren dan se-hebat Al Fatih? Apakah mereka pantas mendapat gelar itu?

Tentunya tulisan ini dibuat bukan untuk menjawab pertanyaan di atas. Sebab pembahasan seperti itu membutuhkan banyak referensi dan data yang kuat. Ditambah lagi, tulisan seperti itu tidak akan cukup dimuat di sini. Mungkin, penulis hanya akan memberikan 3 manfaat apabila di kemudian hari, khususnya di peringatan 29 Mei, generasi muslim muda baik di Indonesia ataupun di Turki akan membahas dengan cukup detail bagaimana sih “Sebaik-baiknya pasukan” seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW;

Pertama, referensi untuk membuat buku tatakelola pasukan versi umat muslim.

Diakui atau tidak, umat muslim masih belum memiliki buku panduan tatakelola pasukan yang disepekati dan disahkan oleh seluruh ulama muslim dunia. Padahal, pasukan muslim dari masa ke masa selalu saja berhasil meraih kemenangan di setiap pertempuran ketika berhadapan dengan musuh.

Lantas pertanyaannya, sistem dan tatakelola militar versi mana yang bisa dijadikan patokan untuk ditulis dan dibukukan? Paling tidak bisa menjadi buku dasar untuk militer di negara yang mayoritas muslim? Tentu jawabannya adalah pasukan yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Siapa yang berani menyangkal atas jaminan yang telah diberikan Nabi Muhammad SAW terhadap mereka? Bahwa mereka adalah “Sebaik-baiknya pasukan”? Tidak ada pastinya.

Kedua, kehidupan sosial para pasukan. Tentunya predikat “Sebaik-baiknya pasukan” akan mengalir terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Apalagi setelah para pasukan pensiun dari medan pertempuran, mereka akan kembali menjadi rakyat sipil. Dari sini kemudian bisa kita lihat sikap mereka yang turut andil dalam perubahan iklim kehidupan sosial masyarakat. Atau bahkan berhasil membuat kultur yang islamis di tengah-tengah rakyat. Sekali lagi, Fakta ini bisa dinarasikan menjadi karya yang dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya peran pasukan baik dalam sebuah peperangan ataupun kehidupan setelahnya.

Ketiga, sebagai ajang membuktikan kebenaran Hadis Nabi Muhammad SAW. Setelah diadakan banyak diskusi dan seminar, baik yang melibatkan para pengamat militer, para pengamat sosial dan semacamnya, bisa kita simpulkan bahwa mereka sesuai dengan jaminan Nabi Muhammad SAW “Sebaik-baiknya pasukan” atau tidak? Jika benar, tentunya akan menambah keimanan kita. Apabila tidak, mungkin ada yang salah dalam memahami hadis itu. Wallahu a’lam.



*Penulis adalah mahasiswa Teology Islam di Univ. Necmettin Erbakan, Konya, Turki.


SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: