Thursday, 10 June 2021

SUDAHKAH KITA BERADAB TERHADAP ILMU




OLEH : AHMAD ZUBAIDILLAH

 

Sudah menjadi adat dikalangan para penuntut ilmu, bahwa salah satu cara untuk mendapatkan keberkahan ilmu adalah menghormati dan beradab terhadap setiap apapun yang berhubungan dengan ilmu. Mulai dari menghormati guru, menghormati buku, dan juga menghormati ilmu itu sendiri. Sayangnya hal semacam ini mulai luntur di zaman yang sudah fleksibel ini, yang mana wawasan sudah bisa di akses lewat media dan informasi manapun.

 

Di kalangan pondok pesantren menghormati ilmu adalah salah satu faktor yang paling menentukan ilmu itu akan bermanfaat dan memberikan keberkahan kepada si penuntut ilmu atau tidak.


Disini penulis akan menyampaikan 2 faktor penting untuk mencapai Futuh-nya ilmu.

Pertama, adalah dengan cara menghormati ahli ilmu atau guru. Syeikh Zarnuji dalam karanganya Ta’lim wa Al-Muta’alim mengatakan :

 

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم و أهله، و تعظيم الأستاذ و توقيره

"Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan mendapat suatu ilmu dan tidak manfaat baginya ilmu tersebut, kecuali dengan menghormati ilmu dan ahli ilmu dan menghormati guru”

 

Juga sebaiknya seorang murid menghormati seorang guru dalam hal Dhohiriyah seperti tidak menyela seorang guru ketika sedang menjelaskan suatu ilmu, tidak berjalan di depan guru, tidak duduk di tempatnya, tidak mengganggu seorang guru dalam waktu sibuknya, juga menggunakan tutur bahasa yang sopan ketika hendak berbicara dengan seorang guru. Dalam hal Bathiniyah  mendoakan seorang guru  ketika selesai sholat adalah salah satu bentuk upaya menghormati guru. Dan menanamkan dalam hati bahwasannya kita hanyalah seorang manusia yang bodoh dan dilahirkan dalam keadaan tidak mengerti apa-apa.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

 

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

 

Bahwasannya manusia itu dilahirkan dalam keadaan tidak tahu-menahu tentang suatu hal apapun. Dengan begitu, kita akan sadar semakin kita tahu tentang suatu ilmu kita akan semakin merasa sebagai manusia yang bodoh, juga semakin menyadari bahwasannya kiprah seorang guru itu sangat besar terhadap ilmu dalam kehidupan kita.

 

Imam Ibn Mubarok RA dalam kitab Adabul Alim Wa Al-Muta’alim karangan Hadrotus Syeikh KH. Hasyim As’arie mengatakan :

نحن الى قليل من الادب احوج منّا الى كثير الى كثير من العلم

“Sedikit adab lebih kita butuhkan untuk mendapatkan banyaknya ilmu”

 

Bahkan dikisahkan bahwasannya Hadrotus Syeikh Hasyim As’arie salah satu pendiri Nahdhatul Ulama’ Jam’iyah islam terbesar di Indonesia ini semasa menunut ilmu di Syaikhona Kholil Bangkalan rela mengambil cincin istri gurunya di dalam tempat kotoran tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mendapatkan ridho dan menghormati gurunya.

Bahkan Sayyidina Ali Karomallohu Wajhahu berkata :

انا عبد من علّمني حرفا واحدا إن شآء باع وإن شآء اعتق وإن شآء استرقّ

"Aku adalah seorang (budak) bagi orang yang mengajarkanku walaupun satu huruf. jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakanku, ataubtetap menjadikan aku sebagai budaknya”.

 

Kedua, pentingnya menghormati sebuah buku atau kitab dalam menggapai keberkahan suatu ilmu. Hal semacam ini mungkin sudah mulai luntur di kalangan para penuntut ilmu zaman ini, karena mulai tergesernya sebuah kitab dengan media digital seperti HP, Laptop atau akses media yang bisa membawa ke suatu informasi. Sehingga banyak yang lupa bahwasannya salah satu faktor penting dalam mencapai barokahnya ilmu adalah beradab terhadap kitab itu sendiri.

 

Syeikh Zarnuji dalam Kitab Ta’lim Wa Al-Muta’alim mengatakan :

مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ تَعْظِيْمِ الْكِتاَبِ فَيَنْبَغِىْ لِطَّالَبِ الْعِلْمِ لاَ ياْخُذَا الكِتاَبِ اِلاَّ بِطَهَرَةِ

"Adapun salah satu cara menghormati ilmu adalah dengan cara menghormati kitab (buku). Maka sebaiknya seorang penuntut ilmu tidak mengambil kitab (buku) kecuali dengan bersuci”.

 

Mengapa demikian? karena buku adalah salah satu media tempat menuangkan suatu ilmu, dan di dalamnya terkandung sebuah ilmu yang kita pelajari. Dalam hal ini seorang guru tetap  mempunyai keterbatasan manusiawi dan tetap mempunyai fitrah sebagai manusia yang hidup dan mati. Fungsi kitab (buku) disini adalah menjaga agar kemurnian suatu ilmu terjamin dan bisa menjadi estafet kelanjutan ilmu ke generasi berikutnya.

 

Bahkan dalam hal peletakan dan penataan kitab Hadrotus Syeikh Hasyim As’arie dalam kitab Adabul Alim Wa Al-Muta’alim menjelaskan secara berurutan mulai dari kanan, mulai dari Al-Qur’an, Hadits, Tafsir Al-Quran, Tafsir Hadits, dan dilanjutkan kitab-kitab yang lain. Hal ini dimaksudkan agar kita tetap menjaga sumber ilmu itu sendiri. Karena dasar seluruh ilmu adalah Al-Qur’an kemudian dilanjutkan Hadits dan Cabang ilmu yang lain.

 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."

(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)

 

Wallohu A’lam.

 

*Penulis adalah Mahasiswa yang sedang melanjutkan study di Konya, Turki.

 

 photo by: 44388_620.jpg (620×355) (tempo.co)

 

 

 

 


SHARE THIS

Author:

PCI NU Turki atau kepanjangan dari Pengurus Cabang Istimewa Turki, merupakan organisasi sosial keagamaan, yang berpusat di Jakarta, Indonesia. PCI NU Turki juga merupakan wadah Silaturahim dan bertukar pikiran untuk mengimplementasikan Islam yang moderat, progresif dan membumi.

0 comments: